

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mulai menerapkan pola baru pembinaan olahraga dengan melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). Melalui program Satu OPD Satu Cabang Olahraga (Cabor), setiap kepala dinas ditugaskan menjadi bapak asuh atlet untuk memastikan pembinaan berjalan lebih maksimal.
Program yang digagas Bupati Sidoarjo Subandi tersebut tidak sekadar menempatkan pejabat sebagai pendamping moral. Mereka juga dituntut ikut bertanggung jawab terhadap kebutuhan atlet, termasuk memberikan dukungan finansial secara pribadi apabila diperlukan.
Subandi bahkan secara terbuka meminta para pejabat tidak hanya menjalankan tugas bapak asuh sebatas formalitas. Menurutnya, tanggung jawab terhadap atlet harus diwujudkan melalui perhatian dan dukungan nyata.
“Jadi bapak asuh bukan hanya mendampingi saja, ya mesti dompetnya kudu metu (harus keluar)! Kan gitu kan? Harapan kita seperti itu, biar nanti punya tanggung jawab kepada anak asuhnya masing-masing,” kata Subandi saat pelepasan kontingen Kabupaten Sidoarjo untuk Popda XV dan Peparpeda III di Pendopo Delta Wibawa, Senin (2/11/2026).

Bupati Sidoarjo H Subandi
Dia menjelaskan, pembagian OPD sebagai bapak asuh akan disesuaikan dengan cabang olahraga yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Dengan skema tersebut, pemerintah ingin membangun hubungan lebih dekat antara pejabat daerah dengan atlet yang dibinanya.
Menurut Subandi, Sidoarjo memiliki banyak atlet muda potensial. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan pembinaan yang konsisten, fasilitas memadai, serta jaminan masa depan agar para atlet tidak memilih pindah dan membela daerah lain.
Salah satu perhatian utama yang disiapkan adalah keberlanjutan pendidikan atlet. Pemkab Sidoarjo berencana mengoordinasikan kebutuhan pendidikan atlet dengan dinas pendidikan kabupaten maupun provinsi, terutama bagi atlet tingkat SMP yang akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMA.
Pemerintah ingin para atlet berprestasi mendapatkan kesempatan masuk SMA negeri dengan fasilitas beasiswa penuh. Dengan demikian, mereka tidak harus memilih antara mengejar prestasi olahraga atau melanjutkan pendidikan.
“Pendidikan ini didampingi oleh pemerintah. Kalau itu dilakukan, saya yakin anak-anak kita tidak akan pindah ke daerah yang lainnya. Sidoarjo ini punya banyak aset bibit unggul, tinggal bagaimana kita bina melalui pelatih dan bapak asuh,” jelasnya.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Sidoarjo Rudi Setiawan menyambut positif kebijakan tersebut. Dia menilai keterlibatan langsung kepala OPD bisa memperkuat perhatian pemerintah terhadap atlet sekaligus membangun mental bertanding.
Menurutnya, pembinaan olahraga tidak bisa hanya dibebankan kepada pelatih dan organisasi olahraga. Dukungan pemerintah serta masyarakat juga dibutuhkan agar atlet memperoleh lingkungan pembinaan yang lebih baik.
“Tujuannya sekali lagi Pak Bupati menginginkan pelayanan terhadap masyarakat, khususnya dalam bidang olahraga. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan atlet ini diharapkan bisa mendongkrak mentalitas bertanding,” ujarnya.

Bupati Sidoarjo H Dibanding bersama para atlet. Dok : Siska P
Selain pendampingan melalui bapak asuh, Pemkab Sidoarjo juga menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung. Di antaranya jaminan pendidikan melalui program beasiswa, layanan kesehatan di masing-masing puskesmas, serta kepesertaan BPJS bagi atlet.
Para kepala OPD yang mendapat tugas sebagai bapak asuh juga diharapkan hadir langsung di lokasi pertandingan. Kehadiran mereka bukan hanya untuk menyaksikan pertandingan, melainkan memberikan motivasi dan dukungan psikologis kepada atlet.
Pola pembinaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kompetisi tingkat pelajar. Pemkab Sidoarjo juga membidik peningkatan prestasi pada ajang yang lebih tinggi, termasuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur.
Bapak Asuh Basket Bidik Dua Medali Emas Porprov 2027
Salah satu kepala OPD yang terlibat dalam program tersebut adalah Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sidoarjo Benny Airlangga Yogaswara. Dia dipercaya menjadi bapak asuh cabang olahraga basket.
Benny yang merupakan mantan Ketua Perbasi Sidoarjo langsung memasang target tinggi untuk menghadapi Porprov Jatim 2027. Dia ingin tim basket putra dan putri Sidoarjo sama-sama meraih medali emas atau mengawinkan gelar juara.
Target tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Benny, Sidoarjo memiliki banyak atlet basket potensial yang perlu mendapatkan dukungan pembinaan secara maksimal.
Pada kompetisi sebelumnya, tim putri Sidoarjo hanya mampu menempati posisi runner-up. Sementara pada tahun sebelumnya, tim basket Sidoarjo meraih peringkat ketiga.
“Yang jelas kita harus dapat medali, intinya itu. Kalau kemarin kan kita hanya runner-up untuk yang putri, dan tahun sebelumnya kita juara tiga. Mudah-mudahan 2027 ini kita bisa mengawinkan putra-putri, paling tidak targetnya juara satu,” ungkap Benny ditemui di Sidoarjo, Kamis (5/11/2026)

Kepala DPM PTSP Kabupaten Sidoarjo, Benny Airlangga Yogaswara. Dok : Siska P
Dia menilai, salah satu kebutuhan mendesak dalam pembinaan basket adalah kecukupan anggaran dan fasilitas latihan. Atlet juga membutuhkan lebih banyak kesempatan bertanding untuk meningkatkan kemampuan sekaligus mengasah mental.
Benny berharap dukungan pembiayaan terhadap cabor basket bisa mencukupi kebutuhan latihan dan pertandingan. Sebab, untuk meningkatkan kualitas permainan, para atlet harus rutin berhadapan dengan lawan yang memiliki kemampuan seimbang atau lebih baik.
Dia juga mengingatkan agar atlet-atlet potensial Sidoarjo tidak sampai berpindah ke daerah lain karena minimnya dukungan pembinaan.
Dalam menghadapi Porprov 2027, Benny menyebut Surabaya dan Malang sebagai pesaing kuat yang perlu diwaspadai. Kedua daerah tersebut diperkirakan menjadi tantangan bagi tim putra maupun putri Sidoarjo.
Menurutnya, kemampuan teknik para pemain relatif berimbang. Hal yang masih perlu diperkuat adalah mental bertanding, terutama karena sebagian besar atlet masih berusia pelajar SMA.
“Kalau sudah ditonton banyak orang, mentalnya kadang bisa jatuh. Kita harus banyak cari lawan tanding sebelum ke sana. Dalam arti untuk mental dan teknik, saya rasa semua pelatih dan pemain hampir sama,” katanya.
Untuk meningkatkan pengalaman bertanding, Benny mendorong atlet basket mengikuti kompetisi bergengsi seperti Developmental Basketball League (DBL). Melalui kompetisi tersebut, kemampuan dan mental para pemain bisa teruji sebelum dilakukan penyaringan untuk membentuk tim inti Kabupaten Sidoarjo.
Selain latihan dan pertandingan, Benny juga menyoroti pemenuhan kebutuhan gizi serta waktu istirahat atlet. Menurutnya, basket merupakan olahraga dengan intensitas tinggi sehingga kondisi fisi pemain harus benar-benar diperhatikan.
“Basket itu kan olahraga yang keras, jadi makannya anak-anak harus diperhatikan. Tidurnya itu yang penting. Stamina terjaga kalau tidurnya enak dan makannya terpenuhi,” tegasnya.
Bapak Asuh Sepak Bola Bidik Medali Emas
Komitmen meningkatkan prestasi atlet juga ditunjukkan Kepala Dinas Perumahan, Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (P2CKTR) Sidoarjo, Mochamad Bachruni Aryawan. Sebagai bapak asuh cabang olahraga sepak bola, dia bertekad mengawal pembinaan atlet agar mampu meraih prestasi terbaik dalam kompetisi yang diikuti.

Kepala Dinas P2CKTR Kabupaten Sidoarjo, Muchamad Bachruni Aryawan, MM. Dok : Siska Prestiwati
Bachruni menegaskan, dukungan kepada atlet tidak cukup hanya melalui fasilitas latihan. Mentalitas, kedisiplinan, dan sportivitas pemain juga harus menjadi perhatian selama proses pembinaan.
Dia mengaku telah memberikan motivasi langsung kepada para pemain sebelum bertanding. Para atlet diminta menunjukkan kemampuan terbaik, menjaga kekompakan tim, serta menjunjung tinggi prinsip fair play.
“Intinya saat berangkat kemarin, kami memberikan motivasi kepada semua pemain yang masuk dalam cabor sepak bola dan memberikan penghargaan kepada mereka agar bersemangat dalam melaksanakan pertandingan. Jangan lupa menjunjung tinggi fair play, jangan bermain kotor, bermainlah dengan bersih,” ujar Bachruni.
Dia berharap tim sepak bola Sidoarjo mampu meningkatkan capaian prestasi dibandingkan kompetisi sebelumnya yang berada di peringkat ketiga. Target berikutnya adalah menembus babak semifinal hingga meraih medali emas.
Menurutnya, para pemain telah mendapatkan pembinaan dan latihan secara disiplin. Modal tersebut harus dimaksimalkan dengan menjaga kekompakan, mental bertanding, serta konsistensi permainan di lapangan.
Bachruni juga memastikan pendampingan melalui program bapak asuh tidak berhenti ketika turnamen selesai. Evaluasi akan dilakukan untuk memetakan kemampuan pemain sekaligus menjaring bibit-bibit potensial yang bisa dipersiapkan menghadapi kompetisi berikutnya.
“Pasca dari turnamen nanti, rencananya kita evaluasi. Nanti kita ambil lagi yang bagus-bagus, kita bina lagi untuk menatap prestasi ke depan,” pungkasnya.
Atlet Berharap Dukungan Tak Berhenti di Beasiswa
Program bapak asuh mendapat sambutan positif dari kalangan atlet pelajar. Mereka menilai perhatian pemerintah memberikan tambahan motivasi untuk berjuang meraih prestasi sekaligus membuka peluang melanjutkan pendidikan.
Salah satunya Achmad Bagas Nur Chamim, atlet sepeda yang merupakan siswa SMP PGRI Sidoarjo. Dia mengaku semakin bersemangat setelah mengetahui pemerintah memberikan perhatian melalui program pendampingan atlet. Bagas menyampaikan hal tersebut saat hendak berangkat ke Ngawi untuk mengikuti Popda, Jumat (6/11/2026).
“Ya semakin bersemangat untuk berlomba dan meraih juara emas,” kata Bagas.

(Tengah) Bagas bersama teman atlet sepeda siap bertanding. Dok : Siska P
Bagi Bagas, dukungan pemerintah bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan selama mengikuti pertandingan. Informasi mengenai peluang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke SMA negeri juga menjadi penyemangat tersendiri.
Dia berharap perhatian yang diberikan melalui program bapak asuh bisa menjadi dukungan berkelanjutan bagi atlet muda. Dengan adanya pendampingan, kebutuhan selama mengikuti kompetisi dan kesempatan melanjutkan pendidikan diharapkan dapat berjalan beriringan.
Bagi atlet seusianya, kepastian masa depan pendidikan menjadi hal penting. Sebab, perjuangan meraih prestasi olahraga membutuhkan waktu dan latihan intensif, sementara pendidikan tetap menjadi bekal untuk masa depan.
Harapan serupa disampaikan Alya Indris Salsa Fitri, atlet pentaque dari SMP PGRI 9 Sidoarjo. Dia juga akan berangkat ke Ngawi untuk mengikuti pertandingan dan berusaha membawa pulang medali emas.
Alya mengaku semakin termotivasi setelah mendengar langsung rencana Bupati Subandi memberikan beasiswa penuh bagi atlet berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke SMA negeri.

Para atlet cabang olahraga Pentaque siap berlaga dan rebut emas. Dok : Siska P
“Semangat bersemangat untuk berlomba setelah mendengar sendiri ucapan Bapak Bupati yang akan memberikan beasiswa full dan menjamin masuk SMA negeri. Saya ingin melanjutkan ke SMA negeri dengan beasiswa,” tuturnya.
Bagi Alya, kesempatan memperoleh beasiswa menjadi dorongan tambahan untuk memberikan kemampuan terbaik dalam pertandingan. Dia berharap prestasi yang diraih di bidang olahraga dapat membuka jalan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Dukungan tersebut juga menjadi harapan bagi atlet pelajar lainnya agar mereka tetap bisa mengembangkan bakat tanpa terbebani persoalan biaya pendidikan. Dengan demikian, prestasi olahraga dan keberhasilan akademik dapat diraih secara bersamaan.
Melalui program Satu OPD Satu Cabor, Pemkab Sidoarjo berharap pembinaan atlet tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Keterlibatan kepala OPD, dukungan fasilitas, jaminan pendidikan, hingga pendampingan kesehatan diharapkan menjadi fondasi untuk mempertahankan atlet potensial sekaligus meningkatkan prestasi olahraga Sidoarjo.Adv

