

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Festival Seni Bandeng Asap kembali digelar untuk keenam kalinya. Berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang kerap menyapa warga di kawasan pesisir dan sentra tambak, ajang kebudayaan tahun ini resmi dipusatkan di jantung kota, yakni Alun-Alun Sidoarjo.
Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) Ribut Wijoto menjelaskan, pemindahan lokasi ke Alun-Alun Sidoarjo didasari oleh gagasan untuk menyatukan dua representasi identitas daerah.

Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo, Ribut Wijoto. Dok : Siska P
”Alun-alun adalah wajah Sidoarjo, sementara Festival Seni Bandeng Asap itu juga wajah Sidoarjo. Maka kemudian keduanya bertemu,” ujar Ribut saat ditemui di lokasi kegiatan, Minggu (8/11/2026).
Ribut merunut perjalanan festival ini sejak pertama kali diinisiasi pada 2020 dan 2021 di kantor Dewan Kesenian Sidoarjo di tengah masa pandemi. Seiring berjalannya waktu, festival ini bergerak mendekati basis produksinya di kawasan tambak, mulai dari Desa Damarsi Kecamatan Buduran pada 2023, Desa Cemandi, hingga kembali ke gedung Dekesda pada 2025 sebelum akhirnya bergeser ke Alun-Alun Sidoarjo tahun ini.
Kendati demikian, pihak penyelenggara tidak menutup kemungkinan untuk kembali memboyong festival ini ke area pesisir pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kawasan tambak memiliki eksotika dan karakter lanskap tersendiri yang menjadi ruh geografis Sidoarjo sebagai wilayah delta.
”Kita itu meyakini bahwa wilayah tambak memiliki keindahannya sendiri, eksotisnya sendiri. Anginnya berbeda, panasnya berbeda, pemandangannya berbeda, dan itu sangat Sidoarjo—sebuah eksotika yang tidak dimiliki oleh wilayah lain,” imbuhnya.
Kirab Gunungan dan Doa Bersama
Sebagai representasi masyarakat Sidoarjo yang religius serta kaya akan seni tradisi, festival ini konsisten menghadirkan tradisi kirab gunungan bandeng asap yang dikombinasikan dengan hasil bumi berupa sayur-mayur dan buah-buahan.
Gunungan tersebut tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga wujud ritual doa keselamatan yang dipanjatkan secara Islam maupun tradisi Jawa. Ritual ini diniatkan sebagai doa bersama demi keselamatan warga Sidoarjo secara khusus, hingga Indonesia secara luas.
”Jadi Festival Seni Bandeng Asap dari tahun pertama sampai tahun keenam ini selalu ada kirab, selalu ada gunungan. Itu sebenarnya adalah sebuah doa, sebuah ritual keselamatan,” terangnya.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Ruang Kreatif Seniman
Diangkatnya nama kuliner tradisional khas Sidoarjo—yang juga merefleksikan lambang daerah bandeng dan udang—bertujuan agar kuliner lokal semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Dekesda menggandeng Komite Ekonomi Kreatif serta platform Wajah ID guna memperkuat branding event sekaligus memberikan dampak nyata bagi perekonomian lokal. Selain itu, panggung festival juga diramaikan oleh partisipasi luas dari para pegiat seni dan sanggar tari lokal melalui sistem kurasi terbuka (open call), seperti Sanggar Maharani, Sanggar Sembrani Art, hingga Sanggar Kreasi Si Dancer Sidoarjo.
”Melalui event ini kita berharap kuliner tradisional Bandeng Asap lebih dikenal masyarakat dan mengangkat nama kulinernya. Selain itu, teman-teman dari pegiat seni budaya dan sanggar mendapatkan ruang kreasi,” pungkasnya

