Anak Sidoarjo Tertinggi Terpapar Radikalisme, Ketua DPRD Minta Guru Perketat HP Siswa

Siska Prestiwati
27 Oct 2026 11:13
4 minutes reading

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Kabupaten Sidoarjo menduduki peringkat pertama di Indonesia terkait anak-anak yang terpapar paham radikalisme, dengan catatan sebanyak 23 anak menjadi korban. Kondisi ini memicu alarm bahaya dan perhatian serius dari DPRD Kabupaten Sidoarjo.

​Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Abdillah Nasih, secara tegas mengajak seluruh guru di Sidoarjo untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikalisme di lingkungan sekolah dengan menegakkan budaya toleransi. Seruan tersebut disampaikannya dalam acara Pemaparan dan Pencegahan Korban Radikalisme yang digelar di Pendopo Delta Wibawa, Selasa (27/10/2026).

​”Sidoarjo jadi nomor satu yang menjadi ancaman radikalisme anak-anak. Peran guru sangat krusial dalam membentengi anak-anak kita dari paparan paham radikalisme,” ujar Abdillah Nasih di hadapan para pendidik.

​Ancaman Nyata yang Berevolusi Lewat Gadget

​Dalam pemaparannya, Abdillah membagikan pengalaman pribadinya saat remaja melihat sahabat terdekatnya terpapar radikalisme. Menurutnya, ada dua hal yang sangat memprihatinkan ketika seseorang terpapar: uang kuliah ludes, serta hilangnya rasa hormat kepada orang tua hingga enggan menyapa dan menggunakan kata-kata takjil ekstrem atau takbir secara tidak tepat.

Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Abdillah Nasih saat memberikan paparan. Dok : Siska P

​Ia membandingkan pola penyebaran radikalisme masa lalu yang konvensional—seperti pertemuan langsung, doktrinisasi tatap muka, hingga undangan khusus—dengan kondisi hari ini yang jauh lebih canggih.

​”Hari ini ancaman radikalisme lebih canggih. Tidak butuh ketemu, tidak butuh pemimpin, tidak butuh visi, tidak butuh target. Mereka hanya melihat dari HP saja,” ungkapnya.

​Abdillah mengaku sempat mendatangi beberapa SMP dan SMA untuk berdiskusi mengenai literasi. Saat ditanya kegemaran membaca buku, para siswa memang mengaku suka membaca, namun buku-buku yang dibaca mencakup literatur dari tokoh-tokoh kiri hingga bacaan nasional maupun internasional yang luar biasa radikal.

​”Ini menjadi kekhawatiran luar biasa. Mereka berdekatan dengan HP, kita tidak bisa mencegah ideologi, tapi kita harus punya ‘bengkel’ yang kuat untuk membentengi anak kita,” tegasnya.

​Ia juga mengingatkan bahwa ciri-ciri fisik, pakaian, atau lingkungan bergaul yang dulu menjadi indikator kini sudah tidak bisa diandalkan karena semuanya terselubung dan sangat sulit dideteksi. Kasus peledakan bom di Surabaya beberapa tahun silam, di mana pelakunya melibatkan anggota keluarga, menunjukkan bahwa para pelaku mengaku terpapar sejak usia sekolah (25–30 tahun lalu). Hal ini menjadi warning atau peringatan keras bahwa paham radikalisme sangat mudah diterima oleh anak-anak jika tidak ada sistem perlindungan (barrier) yang kuat.

​Terapkan 4 Konsep Dasar Ahlussunnah wal Jamaah

​Sebagai solusi penangkalan dini di sekolah-sekolah—baik lembaga berbasis agama maupun sekolah umum—Abdillah mendorong agar khazanah keilmuan leluhur dikembangkan melalui empat konsep dasar pergaulan ala Ahlussunnah wal Jamaah:

​At-Tawassuth (Sikap Moderat / Tengah-tengah): Sikap tidak ekstrem ke kiri (terlalu liberal) maupun ekstrem ke kanan (terlalu kaku atau radikal). Umat Islam bersikap lurus dan proporsional dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Sebanyak 120 kepala sekolah dari SMP negeri dan SMP Swasta serta Kepala Sekolah MTS di Sidoarjo mengikuti sosialisasi terkait ancaman paparan radikalisme pada anak di Sidoarjo. Dok : Siska P

​At-Tawazun (Keseimbangan): Sikap seimbang dalam berkhidmah atau bergaul, baik keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, hubungan manusia dengan Allah (Habluminallah) maupun antarmanusia (Habluminannas), serta antara hak dan kewajiban.

​I’tidal (Tegak Lurus / Keadilan): Sikap senantiasa bertindak adil, jujur, dan berpihak pada kebenaran tanpa berat sebelah serta memperlakukan sesama sesuai porsi tanpa menzalimi.

​Tasamuh (Toleransi): Sikap menghargai perbedaan pandangan, baik dalam urusan keagamaan yang bersifat furu’iyah (cabang) maupun sosial kemasyarakatan, selama tidak menyimpang dari prinsip pokok agama (ushul).

​”Kalau empat konsep ini dikembangkan di sekolah, ini sudah luar biasa dan kita bisa mengantisipasi sejak dini ancaman radikalisme di sekolah-sekolah,” tambahnya.

​Jangan Lakukan Pembiaran, Guru Harus Lebih Aware

​Ia juga menyoroti kebiasaan sepele yang sering diabaikan, di mana pihak sekolah kerap melakukan pembiaran terhadap gurauan antarsiswa yang mengarah pada isu ras karena dianggap sekadar anak-anak bergurau. Padahal, hal tersebut berbahaya karena dapat tertanam di otak dan memicu pelampiasan negatif di kemudian hari.

​Sebagai garda terdepan, guru diharapkan lebih aware (waspada). Bila perlu, pihak sekolah dapat menggalakkan razia HP untuk memantau literasi paham radikalisme hingga muatan dalam game-game digital, mengingat sebagian game disisipi pesan-pesan khusus yang berpotensi menjadi cikal bakal perkembangan paham radikalisme.

​Meskipun Sidoarjo kerap terlihat “adem ayem” dan seolah aman dari radikalisme, fakta historis pada tahun 2021–2022 menunjukkan adanya kejutankeberadaan titik ledakan bom di wilayah Anggaswangi dan Taman. Paham radikalisme diprediksi akan terus berevolusi dengan pola yang berbeda, di mana bibit yang ditanam hari bisa jadi baru akan dipetik hasilnya 20 hingga 30 tahun ke depan.

Join Channel Aksaraindonesia.id untuk mendapatkan update berita terbaru setiap hari.
🛡️ STATUS VERIFIKASI
PT Aksara Indonesia Abyudaya
TERVERIFIKASI ✓
Dokumen & Media ini telah terverifikasi resmi oleh
SMSI JAWA TIMUR

AksaraIndonesia.id

Iklan Jitu

Mobil Motor • Properti • Ragam • Lowongan • Kerjasama Advertorial

Harga Bersahabat, Berkualitas, dan Terpercaya

📱 Hubungi Sekarang

Follow Us

Join WhatsApp Channel

Join Channel
Baca Juga
x
x
Dany Williams

Dany Williams

Typically replies within an hour

I will be back soon

Dany Williams
Berita Terkini, Ekslusif
di WhatsApp AKSARA Indonesia
Berita Terbaru, Eksklusif di Channel Aksara Indonesia