

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi moadmentum penting bagi kalangan pesantren di tanah air. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa santri masa kini harus memiliki penguatan karakter yang matang agar mampu menjawab tantangan global sekaligus menjadi motor penggerak utama menuju Indonesia Emas.
Hal tersebut disampaikannya menanggapi tema HSN 2026, yakni “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Menurut Senator yang akrab disapa Ning Lia ini, santri memiliki posisi strategis sebagai penopang peradaban bangsa yang tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga cakap dalam berbagai sektor pembangunan.
”Santri merupakan bagian penting dari penopang peradaban Indonesia di tengah tantangan global. Karena itu, selain memiliki bekal ilmu agama dan pengetahuan, santri perlu mengembangkan keterampilan serta karakter tambahan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan berkontribusi di berbagai sektor,” ujar Lia, Kamis (22/10/2026).

Enam Pilar Karakter “SANTRI”
Dalam keterangannya di Surabaya, putri KH Masykur Hasyim ini merinci enam pilar karakter utama yang wajib dimiliki oleh setiap santri guna menghadapi persaingan era modern. Keenam karakter tersebut dirangkum dalam akronim SANTRI:
Smart (Kecerdasan)
Santri diharapkan mampu memahami dinamika perkembangan zaman, membaca kebutuhan masyarakat secara jeli, serta mengenali kompetensi apa saja yang sedang dibutuhkan di berbagai bidang profesional.
”Santri diharapkan mampu memahami perkembangan zaman, membaca kebutuhan masyarakat, serta mengenali kompetensi yang dibutuhkan agar dapat diterima dan berkontribusi di berbagai bidang,” jelasnya.
Adaptiveness (Kemampuan Beradaptasi)
Di tengah disrupsi zaman, santri dituntut untuk cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan siap bersaing secara kompetitif ketika mendapat kesempatan berkiprah di sektor publik.
”Santri harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan tantangan baru, apalagi di era sekarang ini, ketika mereka dituntut siap bersaing di berbagai sektor publik,” ungkapnya.
Networking (Jejaring Luas)
Membangun relasi menjadi modal sosial krusial setelah lulus dari pesantren. Melalui jejaring yang luas, santri dapat terus belajar serta mengasah keterampilan praktis di dunia kerja maupun di tengah masyarakat.
”Melalui jejaring tersebut, santri dapat terus belajar dan mengembangkan keterampilan praktik yang dibutuhkan di dunia kerja maupun masyarakat,” imbuh keponakan Gubernur Jawa Timur tersebut.
Toughness (Ketangguhan Mental)
Mental yang kuat, sikap optimistis, serta sifat proaktif (tidak apatis) sangat diperlukan santri saat menghadapi berbagai rintangan baru di tempat mereka mengabdi.
”Santri harus memiliki mental yang kuat, tangguh, optimistis, dan tidak bersikap apatis ketika menghadapi berbagai tantangan di lingkungan tempat mereka mengabdi,” tuturnya.
Responsibility (Tanggung Jawab)
Karakter ini penting untuk menumbuhkan kesadaran kolektif santri agar senantiasa mendedikasikan diri dan berkontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara.
”Santri memiliki peran dalam mendorong kemajuan bangsa sehingga perlu menumbuhkan kesadaran untuk berkontribusi bagi masyarakat dan negara,” terangnya.
Integrity (Integritas)
Integritas diletakkan sebagai fondasi utama moralitas agar santri tetap lurus dalam berkarya, berprestasi, serta menjaga amanah pengabdian kepada bangsa.
”Kami berharap penguatan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan karakter tersebut dapat mempersiapkan santri menjadi generasi yang mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional dan kepemimpinan Indonesia pada masa mendatang,” pungkasnya.

