Demonstrasi RoboDog untuk mengidentifikasi kurir pengirim paket dengan kontrol jarak jauh. Doc : ITS for Aksaraindonesia.idSurabaya (Aksaraindonesia.id) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali unjuk gigi dalam inovasi robotika dan kecerdasan buatan. Bekerja sama dengan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Nokia, dan NVIDIA, ITS memperkenalkan RoboDog—robot anjing otonom yang dapat dikendalikan dari jarak ribuan kilometer. Perkenalan teknologi ini digelar di AI-RAN Research Center, Surabaya, Sabtu (28/2) sore.
Kolaborasi empat institusi tersebut menjadi fondasi lahirnya inovasi ini. IOH mengembangkan sistem Artificial Intelligence Radio Access Network (AI-RAN), Nokia menyediakan jaringan 5G sebagai penghubung utama, sementara NVIDIA memperkuat kemampuan komputasi GPU. ITS berperan mengintegrasikan keseluruhan teknologi itu ke dalam sistem robotika yang dapat beroperasi secara real-time.
Perwakilan pengembang RoboDog ITS, Yuke Brilliant Hestiavin, menjelaskan bahwa RoboDog mampu menerima perintah suara manusia sekaligus memahami konteks instruksi yang diberikan. Dengan sensor kamera dan LiDAR, robot juga bisa membaca lingkungan sekitar secara langsung.
“Kemampuan ini dapat dikendalikan dalam jarak ribuan kilometer,” kata Yuke.
Dalam demonstrasi yang dipaparkan, RoboDog di Surabaya dapat menerima perintah suara dari pengguna yang berada di Barcelona, Spanyol. Robot itu mampu memeriksa kondisi lokasi, mendeteksi potensi bahaya, hingga memastikan tidak ada aktivitas mencurigakan. Menurut Yuke, kemampuan tersebut membuat RoboDog cocok digunakan di sektor industri yang memiliki risiko tinggi bagi pekerja manusia.
Sementara itu, VP Head of Technology Strategy & Partnership Management IOH, Irwan Radius, menegaskan bahwa AI-RAN adalah inti dari kemampuan RoboDog. Sistem ini menghubungkan perintah jarak jauh dengan respons robot melalui jaringan 5G.
“Teknologi ini memungkinkan sinkronisasi antara pusat pemantauan di Spanyol dan robot di Surabaya dengan jeda sangat rendah,” jelas Irwan.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam pendekatan ini, kecerdasan buatan tidak lagi diproses di server pusat yang jauh, tetapi dipadukan langsung dengan infrastruktur jaringan 5G sehingga latensinya sangat rendah. Arsitektur ini dinilai penting untuk teknologi berbasis AI fisik seperti robotik dan drone otonom.
Teknologi tersebut akan dipamerkan dalam ajang Mobile World Congress (MWC) 2026 di Barcelona, Spanyol, pada Maret mendatang. Irwan berharap keikutsertaan ini dapat menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya pasar teknologi, tetapi juga pencipta inovasi.
“Semoga forum internasional ini memberi ruang lebih besar bagi inovasi anak bangsa,” harapnya.
ITS menilai kolaborasi ini menjadi bukti kapasitas SDM Indonesia dalam pengembangan robotika dan kecerdasan buatan yang relevan bagi kebutuhan industri masa depan. Proyek ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama bidang pendidikan, inovasi industri, dan kemitraan global.