TOGA Belum Jadi Aktivitas Harian Lansia di Desa Bangelan, BRIN Taemukan Potensi Perlu Dikembangkan

Siska Prestiwati
8 Jul 2026 14:52
3 minutes reading

Malang (Aksaraindonesia.id) – Tanaman Obat Keluarga (TOGA) belum menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari para lansia di Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Padahal, kegiatan menanam, merawat, hingga memanen tanman herbal dinilai dapat mendukung aktivitas fisik sekaligus kesehatan lansia.

Temuan tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Dra. Suharmiati, Apt., M.Si., dalam penelitian bertajuk Pengembangan Sistem Agrosehat pada Lansia Produktif di Desa Wisata.

“Seharusnya untuk lansia, dengan adanya TOGA mereka melakukan aktivitas fisik, misalnya menyiram, merawat, menanam, memetik, atau memanen tanaman herbal. Ternyata hal itu belum dilakukan oleh para lansia di Desa Bangelan,” ujar Suharmiati, Rabu (8/7/2026).

Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama ibu-ibu lansia Desa Bangelan usai kegiatan uji potensi produk olahan berbahan dasar pangan lokal dan tanaman herbal. Doc : Siska Prestiwati

Menurutnya, sebagian besar rumah warga sebenarnya telah memiliki tanaman obat keluarga. Namun, keberadaannya hanya sebatas ditanam sebagai pelengkap pekarangan dan belum dibudidayakan maupun dimanfaatkan secara rutin.

“Sebenarnya TOGA hampir ada di setiap rumah. Namun jumlahnya sedikit dan bukan untuk budidaya. Mungkin hanya karena ada imbauan desa untuk menanam TOGA di halaman,” kata perempuan yang akrap disapa Ati.

Ati menambahkan selama ini, aktivitas fisik para lansia di Desa Bangelan lebih banyak terbatas pada pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel. Padahal, perawatan tanaman herbal dapat menjadi alternatif aktivitas yang lebih produktif sekaligus memberikan manfaat kesehatan.

Penelitian BRIN tersebut juga memetakan pemanfaatan pangan lokal dan tanaman herbal oleh masyarakat, khususnya kelompok lansia dan ibu-ibu, dalam kehidupan sehari-hari. Pemetaan dilakukan di empat dusun di Desa Bangelan. Salah satu dusun memiliki dua posyandu, yakni Posyandu Tumpeng Sari dan Posyandu Krajan, sehingga penilaian dilakukan pada lima kelompok.

Dalam penelitian itu, ungkap Ati, tim juga melakukan uji potensi dan penilaian terhadap produk olahan herbal dan olahan pangan lokal yang dihasilkan masyarakat. Hasilnya, masih ditemukan sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, terutama terkait standar pengemasan.

“Masih ada kemasan yang belum mencantumkan tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, komposisi bahan, cara konsumsi, aturan pakai, hingga keterangan halal. Ini yang nantinya menjadi masukan dan perlu ditindaklanjuti melalui pelatihan bersama pemerintah desa,” jelas Suharmiati.

Meski demikian, ketersediaan bahan baku tanaman herbal di Desa Bangelan dinilai cukup melimpah. Masyarakat mengaku masih mudah memperoleh berbagai tanaman seperti jahe, serai, kunyit, kencur, dan temu-temuan, baik dari kebun maupun pasar setempat.

Selain tanaman herbal, Desa Bangelan juga memiliki potensi pangan lokal yang besar. Salah satunya adalah singkong yang diolah menjadi makanan tradisional seperti tiwul dan gatot. Hampir setiap pekarangan warga ditanami singkong, bahkan hasil panennya melimpah hingga sebagian dikirim ke pabrik untuk diolah lebih lanjut.

Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal dalam pengembangan sistem agrosehat yang mengintegrasikan pemanfaatan tanaman herbal, pangan lokal, dan aktivitas fisik lansia guna mendukung kehidupan yang lebih sehat dan produktif.

5-5-2026

Arsip Berita :