
Surabaya (aksaraindonesia.id) Kasus mutilasi seorang perempuan warga Lamongan, Jawa Timur, baru-baru ini, seakan menampilkan wajah buruk sebagian media yang masih memojokkan korban, hanya berdasar keterangan penyidik. Misalnya, menampilkan metode mutilasi secara detail, memojokkan korban yang kerap bergaya hidup hedon, dan lain-lain. Padahal jika menerapkan prinsip Jurnalisme Inklusif dan Berperspektif Gender, tentunya hal tersebut tidak terjadi.
Dalam diskusi jurnalistik yang mengusung tema Jurnalisme Inklusif dan Berperspektif Gender, dua pembicara yakni Johannes Nugroho sebagai Koordinator divisi Gender dan Kelompok Minoritas AJI Surabaya dan Tri Ambarwatie, Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jawa Timur, menyoroti bahwa pemberitaan yang tidak inklusif dan berperspektif gender kerap muncul dari redaksi media yang tidak ramah gender.
Fenomena umpan klik atau click bait sering sekali menjadi tujuan media untuk tetap menurunkan pemberitaan yang tidak responsif gender. Bahkan terkadang media pun mengikuti praduga yang beredar di masyarakat dan bukannya memberikan edukasi kepada masyarakat sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik. Karena itu, menurut Koordinator divisi Gender dan Kelompok Minoritas AJI Surabaya. Johannes Nugroho, “Hendaknya media tidak menjadikan informasi dari pihak penyidik, seperti polisi, sebagai sumber utama informasi, karena informasi yang diberikan hanya dari satu sisi dan misalnya pada kasus mutilasi, bahkan seakan mengglorifikasi kekerasan”. Sementara itu, Ketua FJPI Jawa Timur, Tri Ambarwatie, menekankan agar pelatihan atau edukasi terkait Perspektif Gender tidak hanya ditujukan bagi para jurnalis perempuan, namun juga kepada jurnalis pria, “Jika pemahaman terkait jurnalisme inklusif dan perspektif gender diberikan sejak dini, misal saat jurnalis masih berada pada posisi reporter lapangan, maka jika suatu saat ia menduduki jabatan yang lebih tinggi missal redaktur atau bahkan pemimpin redaksi, maka nilai-nilai perspektif gender sudah melekat pada dirinya, dan mampu membuat kebijakan yang berperspektif gender”, ujar Tri.

Diskusi yang diikuti para anggota AJI Surabaya dalam rangka memeringati ulang tahun ke-27 AJI Kota Surabaya, diharapkan bisa menanamkan nilai-nilai inklusif dan ramah gender bagi para anggotanya maupun masyarakat umum.