Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang melihat dan menikmati wisata Tanaka Waterfall di Desa Bangelan untuk diubah menjadi salah satu wisata ramah lansia di Jawa Timur. Doc : Siska PreatiwatiMalang (Aksaraindonesia.id) – Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia terus mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan data statistik demografi lansia tahun 2025, angka lansia di tanah air kini telah menembus 33,94 juta jiwa, atau setara dengan 11,94 persen dari total seluruh penduduk Indonesia.
Merespons fenomena tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) langsung bergerak cepat. Melalui Pusat Riset Kependudukan, BRIN menginisiasi sebuah penelitian strategis yang berfokus pada pemberdayaan kelompok lansia agar tetap berdaya di usia senja.
Penelitian bertajuk “Pemberdayaan Lansia melalui Ekosistem Agrosehat pada Lansia Produktif di Desa Wisata” ini mengambil lokus di Kabupaten Malang. BRIN membidik kawasan ini untuk meluncurkan program berbasis pemberdayaan masyarakat.

Peneliti BRIN bersama wisatawan lansia di Tanaka Waterfall Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kab. Malang. Doc : Siska Prestiwati
Target utama dari riset komprehensif ini adalah mewujudkan destinasi wisata ramah lansia. Adapun wilayah yang dipilih sebagai proyek percontohan adalah Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kependudukan BRIN, Dr.Dra.Rr.Iswari Hariastuti, M.Kes, mengungkapkan bahwa situasi demografi di Jawa Timur saat ini memerlukan perhatian khusus. Pasalnya, persentase populasi lansia di wilayah tersebut tercatat sudah melampaui rata-rata nasional.
“Saat ini, jumlah penduduk lansia di Jawa Timur sudah melebihi jumlah penduduk lansia nasional,” ujar Dr. Iswari usai melakukan penelitian di Desa Bangelan, Rabu (8/7/2026).
Menurut Dr Iswari, lonjakan angka harapan hidup ini harus diimbangi dengan kesiapan sarana dan program yang matang. Menghadapi tantangan transisi demografi tersebut, penguatan kapasitas kelompok lansia mutlak diperlukan agar mereka tidak menjadi beban sosial.
Ia menekankan pentingnya mempersiapkan ekosistem yang mendukung kelompok ini. Tujuannya sangat jelas: memastikan para lansia di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, bisa menjalani masa tua dengan sehat, produktif, mandiri, serta bermartabat.
“Melalui program di Desa Bangelan, BRIN berupaya menggali potensi lokal dengan mengembangkan konsep ekosistem agrosehat. Konsep ini nantinya akan melibatkan para lansia dalam budidaya tanaman obat keluarga (toga) hingga pengelolaan pangan lokal yang bergizi,” jelasnya.
Dr. Iswari menambahkan langkah inovatif ini diyakini tidak hanya akan mendongkrak kualitas hidup dan kesehatan fisik para lansia, tetapi juga roda perekonomian. Dengan tetap produktif, mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan bagi keluarga maupun masyarakat sekitar.
Ke depan, implementasi hasil survei dan riset ini diharapkan dapat berjalan mulus secara berkelanjutan. BRIN menargetkan Desa Bangelan siap bertransformasi penuh menjadi role model desa wisata yang inklusif dan ramah terhadap lansia di Indonesia.