Tanpa Proposal ke Pemerintah, KPIR Galang Dana Meruwat Indonesia Lewat Buwuh Even

Siska Prestiwati
27 Oct 2026 19:04
4 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Menggelar kegiatan seni dan kebudayaan tidak selalu harus dimulai dengan mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah atau perusahaan. KPIR (Kami Pecinta Indonesia Raya) mencoba membuktikannya melalui pola gotong royong yang disebut Buwuh Even untuk mendukung acara Meruwat Indonesia.

Komunitas tersebut membuka donasi sebesar Rp100.000 melalui jaringan pertemanan di Facebook dan WhatsApp. Pola ini terinspirasi tradisi buwuh, yakni sumbangan yang diberikan kepada orang yang sedang menggelar hajatan.

Dana yang dihimpun digunakan untuk mendukung penyelenggaraan Meruwat Indonesia, sebuah kegiatan kebudayaan dan kebangsaan yang dijadwalkan berlangsung Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 16.30–21.00 WIB di makam Pahlawan Nasional WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya.

Bersama Yayasan WR Soepratman dan Surabaya Digital City, KPIR merancang acara tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap berbagai persoalan bangsa, mulai dari korupsi, kerusakan sumber daya alam, kemiskinan, hingga persoalan tata kelola negara.

Ketua pelaksana Rokimdakas mengatakan pihaknya memilih menggalang dukungan melalui jaringan sosial daripada mengandalkan proposal bantuan kepada instansi pemerintah maupun korporasi.

“Kami tidak menyebar proposal untuk meminta bantuan kepada instansi pemerintah. Nawaitu KPIR adalah membuat acara rakyat: dari rakyat, oleh rakyat, untuk Indonesia,” ujarnya.

Buwuh Tidak Hanya untuk Hajatan

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, buwuh identik dengan pemberian sumbangan ketika kerabat, tetangga, atau kenalan menggelar pernikahan dan hajatan lainnya.

KPIR mencoba membawa semangat itu ke penyelenggaraan kegiatan kreatif. Melalui Buwuh Even, jaringan pertemanan tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga sumber dukungan bagi kegiatan kebudayaan.

Menurut Rokimdakas, pola tersebut bisa menjadi alternatif bagi komunitas yang ingin membuat acara, tetapi menghadapi keterbatasan biaya produksi.

Ia menilai banyak kreator bergantung pada proposal bantuan, sementara proses memperoleh dukungan dari pemerintah maupun perusahaan tidak selalu mudah.

Karena itu, jaringan sosial perlu dirawat dan dikembangkan menjadi kekuatan kolektif. Dukungan tidak harus selalu datang dari satu penyandang dana besar, tetapi dapat dihimpun dari banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan tersebut.

Meski demikian, pola gotong royong tetap membutuhkan keterbukaan mengenai kebutuhan biaya, penerimaan donasi, dan penggunaannya agar kepercayaan para pendukung terjaga.

Satu Panggung, Banyak Potensi Ekonomi

Rokimdakas juga melihat kegiatan seni dari sisi dampak ekonomi. Menurut dia, sebuah acara tidak semestinya hanya berhenti pada pertunjukan dan dokumentasi.

Ketika kegiatan semakin banyak, berbagai sektor berpeluang ikut bergerak. Mulai dari seniman, pekerja kreatif, pembuat konten, pelaku kuliner, transportasi, hingga usaha kecil di sekitar lokasi.

“Jika buwuhan itu dikembangkan untuk even, maka akan banyak program masyarakat yang bisa digelar. Semakin banyak even, semakin banyak potensi dan aspek ekonomi yang tergerak,” tuturnya.

Pandangan tersebut menempatkan kegiatan kebudayaan bukan hanya sebagai agenda hiburan, melainkan juga ruang pertemuan berbagai potensi masyarakat.

Namun, manfaat ekonomi itu tentu bergantung pada pelaksanaan acara, keterlibatan pelaku lokal, serta bagaimana penyelenggara membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

Meruwat Indonesia Lewat Seni dan Tradisi

Pola pendanaan gotong royong tersebut menjadi salah satu sisi dari Meruwat Indonesia. Acara ini juga membawa pesan refleksi kebangsaan melalui seni pertunjukan dan tradisi.

Sajian utamanya adalah Teater Mantra bertajuk Doa Tolak Balak, yang menghadirkan Nyai Ngatinah, 69 tahun, seorang empu seni tradisi. Heri Jolotundo bertugas sebagai ilustrator, sedangkan Rokimdakas menjadi sutradara.

Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu (PSBKI) akan menyajikan Tari Remo kolosal. Acara juga menampilkan musik oriental oleh W Sibling, paduan suara SMK Muhammadiyah, dan deklamasi oleh Denting Kemuning.

Kegiatan ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 98 tahun lagu Indonesia Raya yang pertama kali diperdengarkan dalam momentum Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.

Selain itu, KPIR ingin memperluas pengenalan Indonesia Raya tiga stanza. Rokimdakas menilai masyarakat lebih akrab dengan stanza pertama, sementara dua stanza berikutnya belum banyak dinyanyikan dalam kegiatan publik.

Ia berharap pengenalan lagu kebangsaan secara utuh dapat menjadi bagian dari pendidikan kebangsaan bagi generasi muda.

Sejumlah komunitas dan jejaring media dilibatkan, antara lain Komunitas Surabaya Juang, Pecinta Alam dan Pendaki Gunung MGM, MASTRIP, serta Paguyuban Cak Ning.

Melalui Buwuh Even, KPIR ingin menunjukkan bahwa keterbatasan dana bukan selalu alasan untuk menghentikan kegiatan kreatif.

Dengan jaringan sosial, kepercayaan, dan semangat gotong royong, masyarakat dapat ikut mengambil bagian dalam merawat kebudayaan sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Join Channel Aksaraindonesia.id untuk mendapatkan update berita terbaru setiap hari.
🛡️ STATUS VERIFIKASI
PT Aksara Indonesia Abyudaya
TERVERIFIKASI ✓
Dokumen & Media ini telah terverifikasi resmi oleh
SMSI JAWA TIMUR

AksaraIndonesia.id

Iklan Jitu

Mobil Motor • Properti • Ragam • Lowongan • Kerjasama Advertorial

Harga Bersahabat, Berkualitas, dan Terpercaya

📱 Hubungi Sekarang

Follow Us

Join WhatsApp Channel

Join Channel
Baca Juga
x
x
Dany Williams

Dany Williams

Typically replies within an hour

I will be back soon

Dany Williams
Berita Terkini, Ekslusif
di WhatsApp AKSARA Indonesia
Berita Terbaru, Eksklusif di Channel Aksara Indonesia