Kondisi Iran yang di serang AS-Israel,Sabtu (28/2/2026). Doc : IstimewaSidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Stabilitas perekonomian global kembali berada dalam tekanan menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kini melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Operasi militer yang menyasar sejumlah fasilitas strategis di Iran memicu kekhawatiran serius terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah dunia yang bisa mendorong harga energi melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah Israel sebelumnya mengonfirmasi pelaksanaan operasi militer berskala besar dengan sandi “Rising Lion”. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan operasi tersebut bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Sasaran operasi disebut mencakup ilmuwan yang terlibat dalam program nuklir, fasilitas pengembangan rudal balistik, hingga lokasi pengayaan uranium di Natanz. Pejabat militer Israel bahkan mengklaim Iran memiliki material yang cukup untuk memproduksi hingga 15 bom nuklir dalam waktu singkat.
Di sisi lain, otoritas senior Iran dilaporkan menggelar pertemuan keamanan tingkat tinggi. Situasi ini menciptakan atmosfer tegang di sejumlah kota besar dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik terbuka yang lebih luas.
Iran Tetap Jadi Raksasa Energi Dunia

Di tengah tekanan sanksi bertahun-tahun dari Amerika Serikat, Iran tetap memegang peran krusial dalam peta energi global. Negara tersebut tercatat memiliki cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia.
Berdasarkan data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), produksi minyak mentah Iran saat ini berada di kisaran 3,1 juta barel per hari. Angka itu memang turun dibandingkan era 1974 ketika produksinya sempat mencapai enam juta barel per hari, namun volumenya masih tergolong besar dalam struktur suplai global.
Salah satu keunggulan utama minyak Iran adalah biaya produksi yang sangat rendah, sekitar US$ 10 per barel. Angka tersebut jauh di bawah biaya produksi di negara-negara Barat seperti AS dan Kanada yang berkisar antara US$ 40 hingga US$ 60 per barel.
Dengan struktur biaya tersebut, Iran berpotensi meraup margin besar ketika harga minyak dunia naik. Saat ini, ekspor minyak Iran diperkirakan berada di kisaran 1,3 hingga 1,5 juta barel per hari, dengan lebih dari 80% diserap kilang independen di China.
Ancaman Pemblokiran Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan urat nadi utama perdagangan energi global. Doc : Istimewa
Risiko terbesar bagi pasar energi global kini bertumpu pada potensi pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran. Jalur strategis ini menjadi urat nadi distribusi minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz setiap hari sepanjang 2024, setara hampir 20% konsumsi minyak cair global.
Secara geografis, selat ini memiliki lebar hanya sekitar 50 kilometer dengan kedalaman maksimal sekitar 60 meter, sehingga sangat rentan terhadap gangguan keamanan. Para analis memperingatkan bahwa bahkan spekulasi mengenai gangguan transit saja sudah cukup untuk mendorong premi asuransi kapal tanker melonjak, yang pada akhirnya akan meningkatkan harga minyak dunia.
Alternatif jalur distribusi pun terbatas. Berdasarkan catatan EIA, hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki infrastruktur pipa alternatif, dengan kapasitas maksimal sekitar 2,6 juta barel per hari—jauh dari cukup untuk menggantikan volume yang melewati Selat Hormuz.
Risiko Inflasi Global Menguat
Eskalasi konflik juga berpotensi menyeret negara-negara kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Infrastruktur vital seperti fasilitas hidrokarbon, pembangkit listrik, hingga instalasi desalinasi air laut berada dalam posisi rentan.
Secara makroekonomi, risiko terbesar adalah lonjakan harga minyak di atas US$ 100 per barel—level yang terakhir terlihat pada awal 2022. Jika skenario itu terjadi, dunia bisa menghadapi gelombang inflasi baru.
Kenaikan harga energi berpotensi menekan daya beli masyarakat, meningkatkan biaya produksi industri, serta mempersulit langkah bank sentral di berbagai negara maju dalam menjaga stabilitas suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.
Dengan kondisi yang terus berkembang, pelaku pasar global kini mencermati setiap perkembangan di Timur Tengah, menyadari bahwa stabilitas geopolitik kawasan tersebut tetap menjadi salah satu penentu utama arah perekonomian dunia.