Pertunjukan Musik Wukir Suryadi dan Diskusi Lingkungan Soroti Bencana Sumatera, Ini Kata 4 Tokoh

Endang Pergiwati
28 Jan 2026 22:17
3 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Agak sulit menafsirkan beragam bunyi yang bergabung dalam irama musik ciptaan Wukir Suryadi dalam Pertunjukan Musik berjudul Titir di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Rabu (28/1/2026).

Ada kalanya bunyi yang terdengar seperti logam yang bergesekan, seperti besi yang diiris begitu dekat di telinga penonton.

Terkadang bunyi seolah Wukir membawa hutan ke dalam ruang stage Pendopo Taman Budaya Jatim. Ada suara burung burung, ada suara seruan para penghuni hutan ini.

Ada juga bunyi seperti senar yang dipetik, bersamaan dengan senar yang digesek, dipadu dengan bunyi alat musik pukul.

Alat musik yang dimainkan Wukir memang bukan alat musik seperti yang banyak dipakai musisi saat ini.

Alat musik ini semacam garu besar sepanjang 3 meter, dan beberapa bakat musik lainnya. Tak hetan, bunyi yang dihasilkan juga sangat unik. Alat musik tersebut diciptakan oleh Wukir sendiri.

Usai pertunjukan musik yang dimaksudkan untuk kegiatan amal ini, dilanjutkan dengan diskusi bertema lingkungan dengan 4 pembicara, Ketua ED Walhi Jatim, Pradipta, Gusdurian Peduli, Yuska Hari Murti, Kontras Surabaya, Khoir, dan Dosen Musik Unesa Joko Porong.

Yuska Harimurti dari komunitas Gusdurian Peduli mengungkapkan tentang bentuk solidaritas masyarakat saat terjadi bencans yang saling bahu membahu.

“Namun sisi buruknya banyak hal terlewati. Banyak pihak memanfaatkan sebagai panggung pencitraan politik, ” ucap Yuska.

Menurutnya, bencana yang terjadi bukan hanya merupakan ujian pada alam, tetapi juga pada sistem, apakah sistem yang ada mampu mengatasi situasi yang terjadi.

“Pertolongan untuk korban bencana pun bukan hanya bangun rumah kembali, melainkan bagaimana mengembalikan dan memberikan jaminan perlindungan alam, ” tambahnya.

Sementara Pradipta Indra, Ketua ED Walhi Jatim mengatakan, bencana bukan hanya urusan Walhi, BPBD, atau instansi terkait, tetapi urusan semua warga penghuni bumi ini.

“Bencana yang terjadi bukan hanya faktor alam, tetapi juga efek perilaku manusia,” kata Indra.

Ia mencontohkan, fungsi ekologis dari tamanan monokultur tidak beragam memberikan dampak pada alam.

“Hutan yang sehat adalah hutan yang mampu menyerap air membentuk sungai bawah tanah. Namun yang terjadi saat ini adalah banyak hutan yang tidak sehat,” ujarnya.

Parahnya, hal ini juga memungkinkan terjadi di Jatim. Hutan tidak bekerja secara maksimal. Bila pohon di tegang, konflik sosial yang terjadi karena konflik air bersih, cuaca makin tak bisa diprediksi.

Senada, Fatkhul Khoir dari Kontras Surabaya menilai, negara telah lupa dengan tanggung jawabnya.

“Saat bencana terjadi, negara harusnya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi terjadi pembiaran terus menerus sehingga masyarakat lupa dengan tanggung jawab negara,” ucap Khoir atau Juwir ini.

Khoir mencontohkan, keberadaan korporasi yang masuk dalam industri fi tengah hutan Indonesia, karena difasilitasi oleh negara.

Pembicara terakhir adalah dosen musik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Joko Porong, memandang dari kacamata yang berbeda.

Musisi sekaligus budayawan ini memandang esensi bunyi dalam musik yang disajikan Wukir sebagai peristiwa.

“Peristiwa ini bisa ditafsirkan secara beragam. Nah bagaimana kita menafsirkan peristiwa ini, seperti bagaimana kita menafsirkan peristiwa bencana di Sumatera itu dan menariknya dalam kehidupan kita,” tutur Joko Porong.

Peneliti bidang musik dan kebudayaan ini mengajak audiens berpikir kembali tentang bagaimana kita memperlakukan alam.

13-03-2026

5-5-2026