

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Memasuki usia ke-11, Perkumpulan Pedagang Jalanan Indonesia (Pedalindo) menargetkan Kabupaten Sidoarjo menjadi mercusuar perdagangan sektor informal di Indonesia. Target tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 DPD Pedalindo Kabupaten Sidoarjo yang digelar di Aula SMP Negeri 1 Sidoarjo, Minggu (26/7/2026).
Mengusung tema Satu Komando, Satu Perjuangan, peringatan HUT tidak hanya menjadi ajang syukuran, tetapi juga momentum memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas jejaring usaha, serta mendorong peningkatan kapasitas pedagang jalanan dan pelaku UMKM.
Ketua DPD Pedalindo Kabupaten Sidoarjo, Sunyoto, mengatakan usia ke-11 menjadi titik evaluasi sekaligus pijakan untuk memperkuat organisasi. Menurutnya, kebersamaan antaranggota dan sinergi dengan pemerintah daerah menjadi modal utama dalam meningkatkan kesejahteraan pedagang sektor informal.
“Momentum ini menjadi kesempatan mempererat silaturahmi sekaligus mengevaluasi program agar organisasi semakin kuat. Kami juga terus membangun kolaborasi dengan pemerintah untuk mendukung kemajuan para anggota,” kata Sunyoto.
Ia menjelaskan, Pedalindo kini telah berkembang di 15 kota di Indonesia. Ke depan, organisasi akan memperluas pembinaan melalui pelatihan UMKM, peningkatan kualitas produk, hingga membuka akses promosi melalui berbagai pameran usaha.

Ketua DPD Pedalindo Sidoarjo sedang memotong tumpeng dalam kegiatan HUT Pedalindo ke 11 untuk diberikan ke pendiri sekaligus Ketua Umum Pedalindo. Doc : Siska P
Menurut Sunyoto, sejumlah produk anggota bahkan mulai menembus pasar internasional, termasuk kawasan Eropa. Capaian itu diharapkan menjadi motivasi bagi anggota lain untuk terus meningkatkan kualitas produk dan daya saing usaha.
“Kami ingin anggota semakin kompak dan terus berkembang. Organisasi akan berupaya membuka peluang agar usaha mereka bisa naik kelas,” ujarnya.
Sementara itu, Pendiri sekaligus Ketua Umum Pedalindo, Junius Bram Buntaran, menilai usia ke-11 menandai awal perjalanan organisasi memasuki dekade kedua. Fase tersebut dinilai penting untuk memperkuat integritas organisasi sekaligus menjawab tantangan yang semakin kompleks.
Menurut Bram, Pedalindo ingin dikenal bukan hanya sebagai wadah pedagang jalanan, tetapi juga organisasi yang memiliki kredibilitas dan mampu menjadi mitra pemerintah dalam penguatan ekonomi kerakyatan.
Ia menegaskan, organisasi akan terus memperjuangkan terbukanya akses perdagangan yang lebih luas bagi pelaku usaha sektor informal yang selama ini masih menghadapi keterbatasan memasuki pasar formal.
Kami ingin pedagang jalanan menjadi pelaku usaha yang mandiri, bermartabat, dan memiliki kemandirian ekonomi,” tegasnya.
Bram mengungkapkan, saat ini Pedalindo telah memiliki kepengurusan di 15 provinsi. Meski sempat muncul usulan agar kantor pusat dipindahkan ke Jakarta, Tangerang, atau Bekasi, pihaknya memilih tetap menjadikan Sidoarjo sebagai pusat organisasi.
“Kami ingin Kabupaten Sidoarjo menjadi mercusuar perdagangan sektor informal di Indonesia,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah semakin membuka ruang kemitraan bagi organisasi pedagang jalanan. Menurutnya, pelaku usaha sektor informal lebih membutuhkan kesempatan untuk berkembang dibandingkan bantuan semata.
Kami tidak meminta bantuan. Yang kami perlukan adalah ruang dan kesempatan agar anggota bisa terus berkarya serta mengembangkan usahanya,” ujarnya.
Bram turut mengajak seluruh anggota untuk terus berinovasi, meningkatkan kemampuan usaha, serta mulai menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih modern agar mampu bersaing di tengah perkembangan dunia usaha.
Perayaan HUT ke-11 Pedalindo ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, dilanjutkan pembagian doorprize dan hiburan bagi seluruh peserta yang hadir.

