

Mojokerto (Aksaraindonesia.id) – Anggota DPD RI Lia Istifhama mendorong kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur menjadi pemimpin perempuan yang adaptif di era digital. Menurutnya, kemampuan memanfaatkan media sosial kini menjadi salah satu kunci membangun pengaruh dan menyebarkan gagasan positif.
Pesan itu disampaikan Lia saat menjadi pembicara dalam Women’s Inspiration Talk yang digelar Pengurus Wilayah (PW) IPPNU Jawa Timur di Aula Gedung Serba Guna PP Nurul Islam, Mojokerto. Kegiatan bertema Women Inspire, Women Lead: Meneguhkan Perempuan Tangguh dalam Kepemimpinan yang Berdampak tersebut diikuti ratusan pengurus PC IPPNU se-Jawa Timur.
Lia, yang merupakan alumni PW IPPNU Jatim, mengatakan kepemimpinan perempuan saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan berbicara di depan publik. Perempuan juga dituntut mampu membangun komunikasi yang efektif melalui platform digital.
“Media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Karena itu harus dimanfaatkan untuk menyebarkan gagasan yang baik sekaligus memperkuat citra organisasi,” ujar perempuan yang akrab disapa Ning Lia.
Dalam paparannya, Lia mengenalkan konsep agenda setting sebagai strategi komunikasi yang dapat digunakan untuk membangun perhatian publik terhadap isu tertentu. Menurutnya, kader IPPNU harus menjadi pelaku aktif di ruang digital, bukan sekadar menjadi penonton.
Ia mendorong kader mulai memproduksi konten yang edukatif dan kreatif, baik berupa video, tulisan, maupun bentuk komunikasi digital lainnya, agar nilai-nilai Nahdlatul Ulama semakin dekat dengan generasi muda.
Selain membahas strategi komunikasi, Lia juga membagikan pengalaman hidup yang menjadi titik balik perjalanan kariernya. Ia mengaku pernah berada dalam fase terpuruk saat masih menjadi mahasiswa akibat persoalan pribadi. Namun kondisi itu berubah setelah menyaksikan tayangan bencana tsunami Aceh pada penghujung 2004.
Menurutnya, penderitaan para korban tsunami membuatnya menyadari bahwa setiap persoalan harus dihadapi dengan semangat untuk bangkit dan terus berkarya.
Dari situlah saya belajar bahwa kita harus fokus memberi manfaat, bukan larut dalam kesedihan,” katanya.
Lia juga mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap makna kecantikan perempuan. Baginya, perempuan tidak dinilai dari penampilan fisik semata, melainkan dari kecerdasan, inovasi, dan kreativitas yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua PW IPPNU Jawa Timur Aprilia Nur Azizah mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memperkuat karakter kepemimpinan kader perempuan. Ia berharap para peserta mampu menjadi pemimpin yang tangguh sekaligus menghadirkan perubahan positif di lingkungan masing-masing.
Kami ingin kader IPPNU memiliki keberanian untuk tampil, berinovasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui forum ini, PW IPPNU Jawa Timur berharap lahir semakin banyak pemimpin perempuan yang mampu menjawab tantangan zaman, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk memperluas manfaat organisasi.

