Desa Wisata Pembelajaran Inovasi peningkatan kunjungan dan keberlanjutan

Siska Prestiwati
14 Jul 2026 13:00
Opini 0 37
7 minutes reading

Oleh Dr. Weda Raharjo, Drs. M.Si *Peneliti  Manajemen Pemasaran dan Manajemen Pariwisata, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur 

Desa Wisata Pembelajaran adalah sebuah konsep mengembangkan desa wisata dengan atraksi pembelajaran (learning tourism) sebagai bisnis utama atau “core business”. Diharapkan dari konsep ini, kunjungan wisatawan melalui “lama tinggal (length of stay)”, maupun “belanja (spent of money)” mereka meningkat. Bukan hanya itu, model ini juga mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable development), karena kegiatan ini juga memiliki implikasi terhadap peningkatan literasi masyarakat lokal maupun wisatawan terhadap  konservasi lingkungan alam dan budaya setempat.

Implementasi kegiatan ini dilakukan peneliti melalui kegiatan riset bersama BRIDA Jatim dan BRIN di Desa Bangelan, Wonosari, Kabupaten Malang dan Desa Semen, Gandusari, Kabupaten Blitar .

Desa Wisata

Desa wisata merupakan suatu daerah tujuan wisata atau disebut pula destinasi pariwisata, yang mengintegrasikan daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku (UU No. 10 tahun 2009; Nuryanti, 1993).

Berdasarkan pada tingkat pengembangannya, desa wisata dibedakan atas: (1) Desa wisata rintisan; (2) Desa wisata berkembang; (3) Desa wisata maju; dan (4) Desa wisata mandiri. (Perda Jatim No.4, 2022 Tentang Pemberdayaan desa wisata), dengan penjelasan kondisi pada tingkat pengembangan sebagai berikut.

 Tabel 1 Desa Wisata Berdasarkan Tingkat Pengembangan

No. Kriteria Tingkat Pengembangan Desa Wisata
Rintisan Berkembang Maju Mandiri
1 Kondisi Destinasi Berupa potensi Mulai dikenal dan dikunjungi wisatawan Dikenal Dikenal mancanegara dan menerapkan konsep keberlanjutan diakui oleh  dunia.
2 Sarana prasarana wisata dan fasilitas pariwisata Terbatas Terdapat pengembangan Memadai Sangat memadai.
3 Kunjungan wisatawan Belum ada/ Sedikit dari masyarakat sekitar Mulai dikenal dan dikunjungi masyarakat sekitar dan luar daerah. Banyak dikunjungi wisatawan dan wisatawan manca Negara. Banyak dikunjungi wisatawan dan wisatawan manca Negara.
4 Kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata Belum tumbuh Mulai tercipta lapangan kerja dan aktifitas ekonomi masyarakat. Masyarakat mampu mengelola pariwisata melalui kelompok kerja lokal. Masyarakat berinovasi dalam pengembangan potensi wisata Desa dan menjadi unit kewirausahaan yang mandiri.
5 Pendampingan Sangat diperlukan dari pihak terkait
6

 

Pendanaan dan Pengelolaan usaha desa wisata Perlu dana desa untuk pengembangan desa wisata dan pengelolaan bersifat lokal desa Masyarakat mampu mengelola dana Desa untuk pengembangan Desa Wisata Adanya sistem pengelolaan Desa Wisata berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan pendapatan asli Desa. Adanya sistem pengelolaan Desa Wisata berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan pendapatan asli Desa.

Sumber: Olahan Penulis

Sebagai sebuah destinasi, produk desa wisata meliputi: (1) Attraction, (2) Accessibility, (3) Amenities dan (4) Ancillary. Attraction (atraksi wisata) adalah produk utama suatu destinasi yang menarik minat wisatawan berkunjung ke sebuah destinasi pariwisata, misalnya: (1) wisata alam; (2) wisata minat khusus; (3) wisata budaya; (4) wisata edukasi ternak dan sebagainya. Accessibility (aksesibilitas) adalah kemudahan seseorang dalam mencapai suatu tujuan wisata yang mencangkup keamanan, kenyamanan, dan waktu yang ditempuh, meliputi: (1) prasarana transportasi: jalan nasional, jalan menuju desa dan jalan desa; (2) alat transportasi, misalnya: bus, mini bus, jeep, sepeda motor, kereta kuda dan sebagainya. Amenity (amenitas) mengacu pada fasilitas dasar yang dapat digunakan dalam suatu destinasi wisata dan bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan, meliputi: (1) tempat makan-minum, (2) tempat oleh-oleh; (3) penginapan (Homestay). Sedang Ancillary (ansileri) merupakan lembaga penyelenggara perjalanan wisatawan, meliputi: (1) biro perjalanan; (2) pemandu wisata; dan (3) ketersediaan pusat informasi.

Inovasi Potensi Lokal

Inovasi adalah proses menciptakan ide, produk, layanan, atau metode baru yang memberikan nilai tambah dan solusi terhadap kebutuhan atau masalah yang ada, dengan tujuan utama meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan daya saing. Inovasi pengembangan produk, merupakan inovasi kewirausahaan untuk mengembangkan produk baru atau memperbaiki produk yang sudah ada agar lebih menarik bagi konsumen, yang dalam hal ini dilakukan melalui penguatan produk pariwisata lokal menjadi “learning tourism”

Indikator kinerja utama pariwisata diukur dengan banyaknya kunjungan wisatawan ke sebuah destinasi wisata. Sehingga semakin banyak kunjungan wisatawan ke sebuah destinasi, maka semakin baik kinerja pariwisata destinasi tersebut. Lebih lanjut indikator  kunjungan ini diukur dengan dua indikator lainnya, yaitu: lama mereka tinggal (length of stay), dan banyaknya mereka belanja (spent of money). Lamanya wisatawan tinggal yang diikuti dengan banyaknya mereka belanja akan meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar destinasi wisata. Semakin lama wisatawan tinggal di sebuah destinasi, mereka bukan saja membayar tiket masuk ke sebuah atraksi wisata, namun juga harus belanja makan-minum, oleh-oleh, transportasi, dan bahkan biaya untuk menginap di destinasi (homestay atau penginapan). Kegiatan ini akan membuka lapangan kerja dan lapangan berusaha bagi masyarakat sekitar.

Wisatawan berkunjung ke sebuah desa wisata biasanya untuk menikmati segala “potensi lokal” desa wisata tersebut, untuk tujuan: (1) rekreasi dan hiburan, (2) menikmati keindahan alam, (3) mengunjungi tempat budaya dan sejarah, (4) menikmati kuliner, (5) petualangan dan olahraga, (6) religi dan spiritual, , serta (7) belanja oleh-oleh produk lokal.

Aktifitas wisatawan di desa wisata dalam perspektif pembelajaran setidaknya dapat dibagi menjadi tiga hal, yaitu: (1) sightseeing activities, yaitu: sekedar menikmati suasana atau pemandangan, (2) joining activities, yaitu: terlibat dalam kegiatan wisata atau aktifitas masyarakat, misalnya: ikut dalam kegiatan rafting, tubing, hiking, berkebun, belajar menari, dan lain-lain, serta (3) learning activities, yaitu: belajar dan mendalami hal-hal yang ada dan tersedia pada destinasi, misalnya: (a) belajar tentang aktivitas pertanian, peternakan, dan perikanan di masyarakat (b) mengenal lebih dalam tentang budaya lokal, (c) memahami pelayanan kesehatan tradisional, serta mendalami hal lain yang ada pada destinasi tersebut.

 

Aktifitas belajar wisatawan atau learning tourism inilah yang dimaksud sebagai sebagai pengembangan inovasi produk wisata potensi lokal pada sebuah desa wisata. Dan produk ini menjadi “fokus produk desa wisata” serta sebagai “core business atau bisnis utama, dengan tetap memperhatikan  aktifitas wisatawan lain, yang berupa sightseeing dan joining.

Model Inovasi Desa Wisata “Learning Tourism”

Untuk menjelaskan Inovasi Desa Wisata “learning tourism” ini dapat digambarkan bahwa inovasi ini memiliki model, pola  atau langkah tahapan sebagaimana gambar 2 di bawah, dengan penjelasan sebagi berikut:

Dimulai dengan melakukan (1) identifikasi kebutuhan pembelajar, untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh wisatawan yang ingin belajar tentang atraksi ‘learning tourism’, misalnya ‘ternak kambing’ dari hulu – hilir (budidaya hingga membuat produk olahan), dilanjutkan dengan (2) penyiapan fasilitas dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut. Tahap berikutnya adalah (3) melakukan pelatihan dan workshop untuk melatih pemandu wisata yang akan menangani kegiatan atraksi wisata ini. Selanjutnya (4) merancang kolaborasi berbagai pihak yang dapat berkontribusi dalam penguatan kegiatan atraksi wisata ini, misalnya berkaitan dengan penguatan SDM peternak yang akan menjadi pemandu kegiatan ini serta pengembangan konten kurikulum dengan menggandeng Dinas Peternakan, BRIN, BRIDA, perguruan tinggi terkait dan seterusnya. (5) Mengembangkan kurikulum pembelajaran terkait dengan atraksi ini merupakan tahap selanjutnya. Kegiatan ini perlu didukung dengan (6) pemanfaatan tehnologi digital untuk memudahkan proses pembelajaran maupun memperkenalkan atraksi ini pada masyarakat. (7) Pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan bukan saja kepada pemandu tetapi juga kepada masyarakat di lingkungan desa tersebut agar dapat mendukung kegiatan ini dalam berbagai kepentingan. Dan terakhir adalah (8) melakukan evaluasi pengembangan berkelanjutan agar kegiatan ‘learning tourism’ ini terus berjalan sesuai perkembangan zaman.

Learning Tourism dan Pariwisata Berkelanjutan

Pariwisata pembelajaran (learning tourism) adalah bentuk pariwisata yang tujuan utamanya menambah wawasan dan pengetahuan, mengembangkan keterampilan baru, memahami budaya dan kehidupan masyarakat lokal, meningkatkan pengalaman belajar melalui praktik langsung (experiential learning) selama melakukan perjalanan wisata. Sehingga kegiatan ini lebih mengedepankan kepentingan untuk memperoleh wawasan, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman.

Pariwisata berkelanjutan (tourism sustainable development) adalah pariwisata yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya untuk jangka panjang. Sehingga pariwisata berkelanjutan merupakan kegiatan pariwisata yang memperhatikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini maupun di masa depan, sehingga kebutuhan wisatawan, masyarakat lokal, dan lingkungan dapat terpenuhi tanpa mengurangi kesempatan generasi mendatang. Menurut United Nations World Tourism Organization (UN Tourism), pariwisata berkelanjutan memiliki tiga pilar utama, yaitu: (1) keberlanjutan lingkungan, yang berupa: (a) pelestarian alam, anekaragam hayati dan sumber daya alam; (b) mengurangi polusi dan limbah dari aktifitas wisata. (2) keberlanjutan sosial dan budaya, yang berupa: (a) penghormatan budaya, adat istiadat dan warisan lokal. (b) memberi manfaat bagi masyarakat setempat. (3) keberlanjutan ekonomi, yang berupa: (a) menciptakan lapangan kerja dan pendapatan yang adil bagi masyarakat lokal; (b) mendukung usaha lokal agar ekonomi daerah berkembang.

Pariwisata pembelajaran yang mengutamakan meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, pemahaman budaya masyarakat lokal sangat sejalan dengan pariwisata berkelanjutan yang mendukung keberlanjutan lingkungan, sosial dan budaya serta ekonomi masyarakat, karena pariwisata pembelajaran memberikan literasi masyarakat lokal dan wisatawan tentang konservasi lingkungan alam dan budaya bagi semua pihak.

*) Dr. Weda Raharjo, Drs. M.Si, Penulis adalah Manajemen Pemasaran dan Manajemen Pariwisata

x
x
Dany Williams

Dany Williams

Typically replies within an hour

I will be back soon

Dany Williams
Hey there 👋
It’s your friend Dany Williams. How can I help you?
WhatsApp