Buka Puasa Berujung Keracunan, 31 Santri Ponpes di Jombang Dilarikan ke RS

Endang Pergiwati
6 Mar 2026 03:33
2 minutes reading

Jombang (Aksaraindonesia.id) – Sebanyak 31 santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Sholawat Darut Taubah, Jombang, mengalami keracunan usai menyantap hidangan berbuka puasa. Para santri sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan mengatakan puluhan santri yang mengalami keracunan langsung mendapatkan perawatan di RS PKU Muhammadiyah Mojoagung. Saat ini sebagian besar korban telah membaik.

“Yang masih dirawat di IGD tinggal 7 orang, lainnya alhamdulillah sudah membaik. Karena anak-anak cepat dibawa ke rumah sakit untuk ditangani,” kata Ardi kepada wartawan di RS PKU Muhammadiyah, Jumat (6/3/2026).

Peristiwa keracunan tersebut terjadi setelah para santri menyantap menu berbuka puasa berupa nasi, rawon, dan telur asin pada Kamis (5/3) sekitar pukul 18.00 WIB. Menurut Ardi, nasi dan kuah rawon dimasak oleh pihak pesantren, sedangkan telur asin berasal dari SPPG Betek Yayasan Bantar Angin Jaya Abadi.

Untuk memastikan penyebab keracunan, polisi bersama Dinas Kesehatan mengambil sejumlah sampel makanan. Sampel tersebut akan diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLabkesmas) Surabaya.

“Sampel yang diambil antara lain kuah rawon, telur asin, serta muntahan para santri. Kami juga meminta keterangan dari sekitar tujuh santri yang dirawat,” jelasnya.

Ardi menyebutkan keterangan para santri masih beragam. Ada yang mengaku hanya makan telur asin, ada yang menyantap rawon saja, dan ada pula yang mengonsumsi keduanya.

Keterangan santri yang dirawat di sini bermacam-macam, ada yang makan telur dan rawon, ada yang makan telur saja, ada yang makan rawon saja. Ini yang akan kami pastikan dengan pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jombang dr Hexawan Tjahja Widada menambahkan pihaknya juga mengambil sampel air dari lingkungan pesantren untuk diuji di laboratorium.

“Sampel akan kami kirim ke laboratorium kesehatan di Surabaya. Pemeriksaan laboratorium minimal memerlukan waktu sekitar 10 hari,” kata Hexawan.

Sementara itu, biaya perawatan para santri yang terdampak untuk sementara ditanggung oleh pihak Ponpes Sholawat Darut Taubah.

“Karena kami belum mengetahui pasti sumber penyebabnya, apakah dari makanan pondok sendiri atau dari yang lain,” pungkasnya.

13-03-2026

26-01-2026

30-01-2026

20-01-2026

27-01-2026

Arsip Berita :