Rasakan Kedamaian, Ning Lia Ceritakan Momen Lempar Jumrah

Siska Prestiwati
29 May 2026 09:42
2 minutes reading

Mina (Aksaraindonesia.id) – Suasana dini hari di kawasan Jamarat, Mina, Jumat (29/5/2026), dipenuhi langkah para jamaah haji yang bergerak dengan ritme teratur untuk menunaikan lempar jumrah. Di tengah arus ribuan jemaah, anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, merasakan ketenangan sekaligus kuatnya rasa persaudaraan antarjamaah.

Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, Ning Lia telah merampungkan prosesi lempar jumrah hari ketiga. Ia menyebut pelaksanaan haji tahun ini terasa lebih tertib berkat pengaturan yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi.

“Alhamdulillah, suasananya sangat tenang. Pengaturan waktu lempar jumrah untuk setiap negara membuat alur jamaah jauh lebih rapi,” ujarnya di kawasan Jamarat.

Menurut Ning Lia, jamaah Indonesia mendapat jadwal lempar jumrah yang terdistribusi dengan baik sehingga tidak terjadi penumpukan. Aturan itu dinilai membuat pergerakan jamaah lebih aman, baik di jalur menuju Jamarat maupun di terowongan sekitar area tersebut.

“Karena jamnya diatur, jamaah kita bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman. Tidak ada dorong-dorongan dan suasananya jauh dari kepanikan,” tambahnya.

Ia juga mengimbau jamaah agar tidak tergesa-gesa saat berada di area pelemparan. Menurutnya, ketenangan adalah kunci untuk menjaga keselamatan.

“Tadi saya lihat ada beberapa jamaah yang ingin cepat berada di depan. Padahal tidak perlu. Semua sudah berjalan teratur. Kalau kita tenang, ibadah akan lebih khusyuk,” ucapnya.

Di bawah udara malam Mina yang hangat, Ning Lia mengaku prosesi dini hari terasa semakin nyaman karena suhu yang bersahabat. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang menurutnya sigap menjaga dan mendampingi jamaah di banyak titik.

“Saya sempat berjalan dari Maktab 113 menuju Jamarat. Sepanjang jalan ada petugas PPIH yang berjaga, sehingga jamaah merasa aman,” katanya.

Pelayanan terhadap jamaah lansia juga mendapat perhatian khusus darinya. Ia melihat banyak lansia dibantu keluarga maupun petugas menggunakan kursi roda sehingga tetap dapat beribadah dengan tenang.

“Yang membuat saya tersentuh adalah solidaritas antarjamaah. Ketika ada lansia, jamaah lain langsung membantu tanpa diminta. Rasa persaudaraannya luar biasa,” ungkapnya.

Bagi Ning Lia, lempar jumrah bukan hanya ritual, tetapi juga simbol perlawanan terhadap sifat buruk dalam diri manusia. Ia berharap seluruh jamaah pulang dengan hati yang lebih lapang.

“Semoga setelah kembali ke Tanah Air, kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli, dan dijauhkan dari penyakit hati. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan memperbaiki diri,” tutupnya.

13-03-2026

5-5-2026