Sekdaprov Jatim Dukung Riset Drone Jepang untuk Mitigasi Bencana

Siska Prestiwati
19 Jan 2026 15:04
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono menerima audiensi Trajectory Co., Ltd. dan Chiba Institute of Science terkait rencana penelitian sistem pesawat tanpa awak atau drone untuk mitigasi dan penanggulangan bencana. Pertemuan berlangsung di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jatim, Senin (19/1/2026).

Adhy mengatakan Pemprov Jatim mendukung penuh studi kelayakan pengembangan Unmanned Aerial System (UAS) Line Operations untuk kebutuhan kebencanaan. Menurutnya, Jawa Timur merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena berada di jalur ring of fire.

“Jawa Timur berisiko tinggi terhadap bencana, terutama hidrometeorologis yang puncaknya terjadi di bulan Januari. Karena itu, kami membutuhkan teknologi drone dengan tingkat akurasi dan respons yang cepat,” kata Adhy.

Ia menambahkan, kerja sama pemanfaatan teknologi Jepang bukan hal baru bagi Pemprov Jatim. Sebelumnya, Pemprov Jatim juga telah mengadopsi sistem koordinasi kebencanaan seperti incident command center dan mobile command center.

Adhy berharap riset UAS Line ini dapat memperkuat sinergi antara Pemprov Jatim dan Jepang, sekaligus meningkatkan efektivitas penanganan bencana berbasis data.

“Prinsipnya kami mendukung inovasi yang membuat penanganan bencana lebih cepat, terkoordinasi, dan akurat. Harapannya, teknologi ini bisa pertama kali diterapkan di Indonesia melalui Jawa Timur,” ujarnya.

Meski fokus awalnya untuk kebencanaan, Adhy menyebut teknologi drone tersebut berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan lain, seperti pengiriman barang hingga pemantauan kondisi wilayah.

Namun demikian, ia menegaskan saat ini pemerintah perlu menyiapkan regulasi sebagai langkah awal, termasuk pengaturan rute dan mekanisme operasional drone dalam situasi bencana.

Sementara itu, perwakilan Trajectory Co., Ltd. Kenji Koseki mengapresiasi dukungan Pemprov Jatim serta kolaborasi dengan BRIN dan Universitas Budi Luhur dalam penelitian tersebut.

Kenji menjelaskan, di Jepang drone sudah digunakan secara luas, baik untuk kebencanaan maupun aktivitas sehari-hari. Jangkauan operasionalnya bahkan bisa mencapai 40 kilometer dengan ketinggian terbang 150 meter, dan dapat lebih tinggi dengan izin khusus.

“Di Jepang, drone sudah umum digunakan, termasuk untuk membantu lansia mengirim atau memesan kebutuhan seperti obat. Saya yakin teknologi ini bisa berkembang lebih cepat di Jawa Timur,” katanya.

Menurut Kenji, kunci pengembangan UAS di Indonesia adalah kejelasan regulasi dan penetapan rute penerbangan, khususnya untuk kebutuhan penanggulangan bencana.

13-03-2026

5-5-2026