Pameran-Workshop-Pasar Rakyat BUMI di Surabaya: Tidak Hanya Soal Seni, Ini Juga Tentang Kamar Dagang Para Kreator

Endang Pergiwati
7 Dec 2025 22:45
3 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Seperti biasa, area Balai Pemuda yang kini populer disebut Alun-Alun Surabaya, ramai dengan pengunjung pada minggu malam (7/12/2026). Namun sebagian pengunjung ini bukan hanya ingin mencicipi jajanan yang disajikan lapak-lapak UKM Bazar di sisi barat, namun mereka asyik menikmati sajian musik di depan Galeri DKS, sisi timur Balai Pemuda.

Sajian musik ini adalah bagian dari seremoni penutupan Pameran-Workshop-Pasar Rakyat bertajuk Bumi yang digelar para seniman dari Bogor, Yogyakarta, Bandung dan Surabaya, mulai Senin (1/12/2026) hingga Minggu (7/12/2026) di Galeri DKS Surabaya.

Tak hanya lukisan, yang dipamerkan di galeri ini, seni cukil, batik, dan ragam seni rupa lainnya juga ditampilkan di sana. Di samping beragam kaos, totebag, kain dan merchandise menarik lainnya, yang dijual dengan harga yang tidak mahal.

Sementara workshop yang diadakan, yaitu cetak, cukil dan batik, digelar di 2 lokasi, yaitu kawasan Dolly (eks-lokalisasi) dan Dupak Masigit, Kelurahan Jepara, Surabaya. Peserta workshop yang disasar adalah masyarakat kampung sekitar lokasi workshop.

Pendiri Komunitas Bakar Sebumi, Ibob, yang memberikan materi workshop mengatakan, dirinya sengaja menggelar workshop dengan tujuan ingin berbagi dengan masyarakat semua lapisan. Tidak hanya pada kemampuan seni cukil dan cetak yang dimiliki, namun juga produk yang dihasilkan.

Pada workshop yang digelar, memang menarik minat cukup banyak warga sekitar. Namun pada pameran seni yang digelar, diakui Ibob, seni masih dipandang bukan sebagai hal yang penting dan menarik. Pola pikir masyarakat umum ini memang ada di kota besar seperti Kota Surabaya maupun kota-kota lainnya, seperti Bogor.

“Kebanyakan orang berpikir, orang tidak butuh seni, karena yang dibutuhkan itu makan. Orang berpikir, bukan bagaimana berkarya, tetapi bagaimana bisa makan,” ujar pria asli Kota Gresik, Jawa Timur ini.

“Tetapi bagaimana meletakkan seni ini bersama dengan kebutuhan makan, inilah yang kami lakukan melalui workshop cukil ini,” lanjutnya.

Dengan seni cukil ini, terang Ibob, desain karya sendiri bisa diproduksi dan dicetak pada kaos, totebag, poster, topi, dan produk-produk lainnya. Seperti dirinya yang juga menciptakan berbagai produk dagang dengan merek ArtCukil.

“Jadi dalam workshop yang kami selenggarakan, kami berharap semua peserta juga memiliki kamar dagang sendiri,” ucapnya.

Tidak hanya mengajarkan teknik cukil, dirinya juga siap berbagi pengalaman manajemen, mulai dari soal mencari bahan baku, melakukan produksi, hingga teknik pemasaran. Berbagi ilmu ini, sudah ia lakukan ke berbagai wilayah, mulai Ternate, Maluku Utara, Medan, Bandung, Bekasi, Cirebon, Purwokerto, Tegal, Kedal, Solo, Rembang, Jogjakarta, Kebumen, Banyumas, Tulungagung, Malang, Gresik Surabaya, Madiun, Tuban, dan beberapa daerah lainnya.

Namun dalam perjalanan workshop itu, teknik cukil kayu sendiri mengalami perkembangan yang sangat bervariatif.

“Ini karena usai mengikuti workshop, para peserta itu kemudian mengembangkan sendiri, sehingga teknik cukil ini mengalami perkembangan yang berbeda-beda di berbagai wilayah,” terangnya.

Rencana ke depan, pada Juli 2026 nanti, pihaknya akan menggelar Art Cukil Fest di Jogjakarta, yang akan menampilkan beragam pengembangan dari workshop teknik cukil ini.

“Ada sekitar 29 komunitas yang akan hadir menampilkan pola pengembangan cukil masing-masing,” tutup Ibob.

13-03-2026

5-5-2026