

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – DPRD Kabupaten Sidoarjo memberi perhatian serius terhadap kasus dugaan keracunan ratusan santri yang diduga terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Abdilah Nasih, menegaskan komitmen lembaga legislatif untuk mengawal ketat penanganan para korban.
Abdilah memastikan tidak boleh ada satu pun anak yang luput dari perawatan medis. Seluruh rumah sakit milik pemerintah daerah telah diminta dalam posisi siaga penuh.
”Kami dari DPRD bersama-sama memastikan satu hal: tidak boleh ada anak satu pun yang tidak tertangani. Seluruh rumah sakit, seluruh fasilitas milik pemerintah harus siapkan semua,” tegas Abdilah saat ditemui, Selasa (1/9/2026) malam.
Biaya Ditanggung Pemerintah & Buka Posko Pengaduan
Ia meluruskan prinsip keadilan dalam penanganan medis ini. Abdilah menekankan bahwa seluruh pengobatan korban murni ditanggung pemerintah, bukan dibebankan kepada wali murid.
”Maksudnya biaya tidak boleh adil dalam arti patungan. Artinya semuanya ditanggung oleh pemerintah,” ujarnya.
Selain itu, Abdilah meminta pemerintah daerah segera membuka jalur atau posko pengaduan khusus bagi keluarga korban.
”Kalau itu memang butuh nanti adukan, tentu harus ada. Tidak bisa tidak,” lanjutnya.
Desak Pendataan dan Sistem “Jemput Bola”
Tak hanya berfokus pada penanganan darurat, DPRD Sidoarjo juga mendesak Dinas Pendidikan untuk segera melalukan pendataan pasca-kejadian. Pendataan tersebut diprioritaskan untuk memantau kondisi siswa angkatan 2008–2009 dan seterusnya.
”Yang ketiga adalah dari sisi pascanya. Dinas Pendidikan harus memastikan dari 2008–2009 ini, yang lainnya tercatat bagaimana,” katanyya.
Guna mempercepat deteksi dini, Abdilah mendorong jajaran puskesmas dan petugas kesehatan untuk menerapkan metode jemput bola tanpa menunggu laporan pasif dari pihak sekolah.
”Jadi harus dipastikan, bila perlu dari mulai UKS-nya, kemudian Puskesmas-nya, turun jemput bola. Jangan menunggu laporan dari sekolahan. Jemput bola ke bawah, kemudian deteksi mana-mana yang ada merasa mual, kemudian dilaporkan kepada pihak sekolahan,” pungkasnya.
Langkah responsif ini diharapkan mampu mengintervensi gejala awal yang dirasakan para siswa sehingga penanganan medis dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

