Jatim Gelar Rukyatul Hilal Awal Ramadan di 21 Titik, Hasil Dilaporkan ke Sidang Isbat

Siska Prestiwati
17 Feb 2026 14:25
2 minutes reading

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur menggelar Rukyatul Hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2), bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H. Pengamatan dilakukan serentak di 21 titik kabupaten/kota di Jatim.

Rukyatul hilal dilaksanakan saat matahari terbenam hingga beberapa saat setelahnya. Seluruh hasil pengamatan dari daerah kemudian dilaporkan secara berjenjang sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI.

Menurut data Tim Kemasjidan dan Hisab Rukyat Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jatim, pengamatan hilal tahun ini tersebar di 21 lokasi. Yakni di Kota Blitar, Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Kabupaten Blitar, Jember, Trenggalek, Sampang, Ngawi, Pasuruan, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, dan Ponorogo.

Setiap titik dipilih berdasarkan sejumlah pertimbangan teknis, seperti keterbukaan ufuk barat, minim polusi cahaya, stabilitas atmosfer, hingga aksesibilitas dan keamanan lokasi pengamatan.

Pelaksanaan rukyat melibatkan berbagai unsur, mulai dari jajaran Kemenag, hakim Pengadilan Agama, ormas Islam, BMKG, para ahli falak, perguruan tinggi, pondok pesantren, hingga tokoh agama dan masyarakat. Sinergi lintas lembaga ini dinilai penting agar proses pengamatan berjalan objektif, ilmiah, dan sesuai ketentuan syariat serta regulasi berlaku.

Dalam proses penetapan, Kemenag mengacu pada kriteria imkanur rukyat MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura). Hilal dinyatakan memenuhi kriteria apabila tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam. Semakin besar elongasi, semakin besar peluang hilal terlihat.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jatim, Munir, menegaskan bahwa rukyatul hilal adalah bagian dari pelayanan negara kepada umat Islam.

“Pelaksanaan rukyatul hilal ini merupakan ikhtiar ilmiah dan syar’i dalam menentukan awal Ramadan. Kami memastikan prosesnya dilakukan profesional, melibatkan para ahli falak dan unsur terkait, serta mengacu pada kriteria yang telah disepakati,” ujarnya.

Munir menyebut tantangan di lapangan kerap muncul, mulai dari lokasi yang terbatas, akses menuju titik pengamatan, hingga cuaca yang tak menentu seperti mendung atau awan tebal.

“Meski begitu, kami tetap optimistis. Proses rukyat dilakukan secara transparan dan akuntabel. Hasilnya akan kami laporkan sebagai bahan Sidang Isbat di tingkat pusat,” tegasnya.

Kanwil Kemenag Jatim berharap rangkaian rukyatul hilal tahun ini memberikan kepastian bagi umat Islam dalam menyambut Ramadan 1447 H dengan tenang dan penuh kesiapan.

 

13-03-2026

5-5-2026