
Mojokerto (Aksaraindonesia.id) – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan akan menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Mojokerto yang diduga menjadi sumber keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penutupan dilakukan sambil menunggu hasil investigasi menyeluruh terkait dugaan telur ayam rebus basi dalam menu soto ayam yang dikonsumsi ratusan warga.
“Kami dari BGN menegaskan bahwa keselamatan penerima manfaat adalah prioritas utama. SPPG ini kami rekomendasikan ditutup sementara sampai seluruh proses investigasi selesai,” kata Kepala Regional BGN Jawa Timur Mahda Pradewa,Jumat (16/1/2026).
Mahda menjelaskan, BGN telah menurunkan tim investigasi sejak munculnya laporan ratusan pelajar, santri, dan warga dewasa mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG. “Kami sedang menelusuri seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi,” ujarnya.
Menurut Mahda, indikasi awal mengarah pada kualitas telur ayam rebus yang digunakan dalam menu soto ayam. Namun demikian, BGN belum ingin menyimpulkan secara final sebelum hasil uji laboratorium keluar. “Kami tidak ingin berspekulasi. Semua harus berbasis data dan hasil pemeriksaan resmi,” tegasnya.
Kasus keracunan ini menimpa sedikitnya 411 orang yang mengonsumsi MBG soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Hidayah, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, pada Jumat (9/1).
Mahda menegaskan, tidak ada tenggat waktu pasti terkait berapa lama penutupan SPPG tersebut. “Durasi penutupan sangat tergantung pada hasil investigasi. BGN pusat yang akan menentukan apakah SPPG ini bisa dibuka kembali atau justru ditutup permanen,” jelasnya.
Ia menambahkan, evaluasi tidak hanya menyasar dapur MBG di Mojokerto, tetapi juga menjadi pembelajaran nasional. “Kasus ini menjadi alarm bagi kami untuk memperketat standar operasional di seluruh SPPG di Indonesia,” kata Mahda.
Sementara itu, Dandim 0815 Mojokerto Letkol Inf Abi Swanjoyo membenarkan bahwa rekomendasi penutupan sementara SPPG telah disepakati dalam rapat gabungan lintas instansi. “Kami sepakat SPPG ini ditutup sementara dan akan dievaluasi sambil menunggu hasil investigasi BGN,” ujarnya.
Abi menekankan bahwa program MBG merupakan program strategis nasional yang tidak boleh gagal akibat kelalaian teknis. “Program ini sangat bagus dan menyangkut masa depan anak-anak serta bangsa. Karena itu pengawasan harus diperketat,” tegasnya.
SPPG tersebut diketahui beroperasi sejak 22 September 2025 dan setiap hari memproduksi 2.679 porsi MBG. Dapur ini menyuplai makanan bergizi gratis ke 22 sekolah dan pondok pesantren di Kecamatan Kutorejo dan Mojosari.
Mahda kembali menegaskan komitmen BGN untuk membenahi sistem pengawasan. “Kami akan bekerja sama dengan seluruh stakeholder di daerah. Ke depan, kami pastikan kejadian serupa tidak terulang dan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG tetap terjaga,” pungkasnya.