
Mojokerto (Aksaraindonesia.id) – Suasana Pondok Pesantren An-Nur di Kecamatan Kutorejo tampak berbeda sejak Jumat (9/1/2025) siang. Biasanya para santri sibuk dengan kegiatan belajar, namun hari itu banyak yang tampak lemas dan membutuhkan bantuan tenaga medis. Mereka diduga mengalami gejala keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Informasi yang dihimpun menyebut sekitar 150 santri dan siswa dari Ponpes An-Nur, Ponpes Al-Hidayah, hingga SMPN 2 Kutorejo mengalami gejala mual, muntah, pusing hingga sakit perut. Para korban kemudian dibawa ke sejumlah pusat layanan kesehatan, seperti Puskesmas Kutorejo, Pesanggrahan, Gondang, Pacet, dan sebagian dirawat langsung di ponpes.
Di salah satu sudut ponpes, Edwin Rakan (15), santri MTs sekaligus siswa SMP, tampak duduk bersandar sambil memegangi perutnya.
“Setelah makan MBG itu langsung pusing. (Mual?) iya,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
“Kemarin sempat sekolah, sempat bantu-bantu terus drop. Saya langsung tidur. Tadi pagi saya diare.”
Cerita serupa datang dari Muis, santri asal Desa Mojosulur, Mojosari. Ia awalnya merasa baik-baik saja setelah makan siang itu.
“Setelah makan (MBG) biasa saja. Tapi malamnya sakit. Malam itu pusing, lalu saya buat tidur. Besok pagi bangunnya perut sakit,” ungkapnya.
Jumlah santri yang mengeluhkan kondisi serupa semakin bertambah dari malam hingga pagi. Situasi ini membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto langsung terjun ke lokasi. Kepala Dinas Kesehatan Dra Dyan Anggrahini memastikan tenaga medis dari berbagai fasilitas kesehatan dikerahkan.
Tenaga medis dari Puskesmas Mojosari, Modopuro, Pandan, Bangsal, RS dr Soekandar. Masing minimal membawa 4 orang. Kalau Soekandar mungkin ada 10 orang,” beber Dyan saat ditemui di Ponpes An-Nur.
Dyan menegaskan bahwa meski dugaan mengarah pada menu MBG, belum ada kesimpulan final. Tim medis telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
“Kami masih menunggu hasil sampel keluar,” jelas dokter Dyan.
Di tengah suasana yang penuh kekhawatiran itu, para pengurus ponpes terus mendampingi para santri yang tampak lemah. Tenaga kesehatan juga terlihat bergantian melakukan pemeriksaan sambil menenangkan para siswa.
Hingga sore, sebagian santri mulai menunjukkan kondisi membaik, namun pemantauan tetap dilakukan. Tentu, ini menjadi hari yang berbeda bagi mereka—siang makan soto, malam harus berjibaku dengan pusing dan sakit perut yang datang bersamaan.