59 Santri Masih Dicari, Evakuasi Mushola Ambruk Sidoarjo Libatkan Crane

Siska Prestiwati
2 Oct 2025 13:07
2 minutes reading

Sidoarjo (aksaraindonesia.id) – Memasuki hari keempat pasca-ambruknya Mushola Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, tim gabungan mulai menggunakan alat berat berupa crane untuk mempercepat proses evakuasi. Keputusan ini diambil setelah melalui kesepakatan bersama keluarga santri yang terdampak.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengatakan, keputusan penggunaan alat berat diambil setelah tim tidak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan. Sebelumnya, tim gabungan telah melakukan pencarian manual dengan mengerahkan peralatan canggih, termasuk ground thermal, namun hasilnya nihil.

“Kami sudah berdiskusi dengan keluarga terdampak. Tidak ada lagi yang meminta pencarian manual karena mereka menyadari kondisi di lapangan. Berita acara juga sudah ditandatangani oleh perwakilan masyarakat, sehingga evakuasi dengan alat berat bisa dilakukan,” kata Suharyanto kepada wartawan, Kamis (2/10/2025) siang.

Menurut Suharyanto, hingga saat ini tercatat total 108 korban dalam peristiwa tersebut. Dari jumlah itu, 103 orang selamat dan 5 meninggal dunia. Sementara masih ada 59 orang yang dilaporkan hilang, namun BNPB belum bisa memastikan apakah mereka berada di bawah reruntuhan.

“Data 59 orang itu ada nama, alamat dan fotonya.Dimana itu? Kita tidak tahu karena dengan alat-alat yang canggih Basarnas itu dari 15 titik ada delapan tambah dua, ” jelas Suharyanto.

Pihaknya, ungkap Suharyanto sudah berdialog dengan pihak wali santri dan keluarga santri yang ada disini. Semoga 59 data yang dilaporkan tidak ada di reruntuhan dan mereka selamat dan dalam keadaan sehat.

“Di hari pertama, ada keluarga yang panik, menangis, karena mengira anggota keluarganya tertimbun. Tapi ternyata ditemukan di tempat lain. Kami berharap semuanya bukan termasuk titik hitam (korban meninggal) yang dinyatakan Basarnas,” jelasnya.

Suharyanto menambahkan, selama tiga hari terakhir tim gabungan sudah memberikan waktu maksimal untuk pencarian manual, termasuk mensterilkan lokasi agar bisa mendengar kemungkinan suara lemah dari korban. Namun, setelah dipastikan tidak ada tanda kehidupan, tahap evakuasi berikutnya berfokus pada pencarian jenazah.

“Kalau nanti ditemukan jenazah, maka segera akan dilakukan prosedur pemakaman sesuai agama. Tim ahli dengan pengalaman evakuasi di gedung runtuh juga sudah didatangkan,” pungkasnya.

13-03-2026

5-5-2026