WALHI Jatim Gelar Diskusi Publik, Muni: Konflik Berdarah di Indonesia Bermula dari Perebutan Sumber Daya Alam

Endang Pergiwati
19 Sep 2026 11:34
5 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Mengangkat tema Delusi Menyelamatkan Bumi dan Ancaman terhadap Kelayakan Hidup, WALHI Jatim dan C2O Library & Collabtive mengajak audiens Kembali berbincang tentang kerusakan alam Indonesia, bersama dua penutur, yaitu Bambang Catur dari Klub Indonesia Hijau 03 dan Muni Moon, pewarta foto.

Lucky Wahyu, juru kampanye WALHI Jatim mengawali diskusi dengan pertanyaan yang cukup menarik, apakah selama ini kita telah menyelamatkan bumi atau hanya menyelamatkan diri sendiri. Pertanyaan yang sepertinya sengaja dilontarkan untuk “mengganggu” pikiran audiens ini, dijawab dengan lugas oleh Muni Moon, bahwa kita belum menyelamatkan bumi.

“Kita tidak terima ketika kita minum air yang kotor, makanan yang tidak fresh atau tercemar, lampu di rumah mati, tetapi kita bisa diam Ketika tambang-tambang itu menggerus rumah-rumah masyarakat adat. Kita tidak gelisah dengan hal itu,” tutur pewarta foto Adreena Media ini.

Lebih lanjut, Muni memaparkan, selama ini media selalu menyuguhkan dengan data kerusakan alam, berapa banyak hektar hutan yang hilang, berapa kilometer abrasi. Namun siapa yang kehilangan penghidupan dari dampak kerusakan itu tidak selalu digambarkan dengan jelas.

Yang tidak banyak orang sadari adalah dampak kerusakan itu sebenarnya tidak hanya dialami oleh lingkungan di sekitar kerusakan itu saja, melainkan berimbas pada wilayah lain. Artinya, kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan dan Papua, penambangan besar-besaran yang terjadi di Sumatera dan Banyuwangi, cepat atau lambat akan terasa dampaknya di rumah kita masing-masing, dimana pun kita tinggal di Indonesia ini.

“Nelayan Gresik sekarang mencari ikan di Kenjeran Surabaya, karena sudah tidak lagi ada ikan di perairan Gresik. Kalau reklamasi terus dilakukan, bisa terjadi Kenjeran juga akan hilang ikannya. Lalu nelayan harus mencari ikan kemana lagi? Yang pasti, harga ikan akan menjadi mahal,” tuturnya mencontohkan.

Muni juga menguraikan pola para nelayan di Lamaleram, Nusa Tenggara Timur, mencari ikan. Menurut Muni, ada yang harus diluruskan dari pemberitaan media tentang nelayan Lamalera yang disebut-sebut memburu ikan paus.

“Makna kata memburu ikan paus itu mencari. Mereka seolah mencari ikan paus. Padahal bukan itu yang mereka lakukan. Dalam aturan adat di Lamalera, mereka akan menangkap ikan paus hanya yang tertangkap mata atau kelihatan oleh mereka. Jadi mereka tidak mencari ikan paus,” tutur perempuan yang telah mengunjungi berbagai wilayah di nusantara untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakatnya, termasuk Lamalera.

Selain itu, paus yang boleh ditangkap adalah paus betina yang tidak sedang hamil. Daging seekor ikan paus yang didapat akan dibagi untuk kebutuhan pangan satu desa warga Lamalera, sebagian langsung diolah sebagai makanan, sebagian lagi ditukar dengan jagung, minyak, dan kebutuhan pangan lain warga setempat.

Masyarakat nelayan Lamalera, lanjut Muni, telah beratus tahun lalu, menjaga kelestarian alamnya, sumber daya lautnya agar sumber daya itu masih dapat menjadi sumber makanan bagi anak cucu mereka kelak. Namun mereka digugat oleh lembaga konservasi karena dianggap mengancam kelestarian ikan paus.

“Hasilnya, mereka menang di persidangan. Sayangnya, lembaga konservasi malah melemparkan bom ke sekitar pantai Lamalera untuk mengusir ikan-ikan dari pantai Lamalera. Butuh bertahun-tahun lamanya bagi ikan-ikan itu untuk kembali ke pantai itu karena traumatis saat ikan-ikan itu mendengar suara bom di perairan pantai,” tuturnya.

Diakui Muni, melawan hegemoni sumber daya alam di Indonesia ini pasti sangat sulit, namun bukan berarti tidak ada yang perlu dilakukan. “Marilah kita mulai dari diri kita. Soal limbah makanan misalnya, bila kita makan 3 piring yang akhirnya masih ada sisa makanan di piring yang harus dibuang, ya jangan makan 3 piring. Makan secukupnya saja. Kita memfilter pertama diri kita sendiri. Kedua, keluarga kita, dan ketiga, orang-orang di lingkungan sekitar kita. Kita bisa melakukan ini secara konsisten, akan menjadi gerakan yang besar,” tutur Muni.

Muni menutup tuturnya tidak hanya dengan menggugah kesadaran diri untuk berbuat, namun juga menghargai sumber daya yang masih bisa kita nikmati saat ini. “Bicara masalah lingkungan bukan hanya menyangkut para peduli lingkungan, semua terkait di sini. Dari zaman kolonial, tragedy 1965, tragedi 1998, tragedi Ambon, semua akar permasalahan konflik berdarah di Indonesia ini sebenarnya adalah perebutan sumber daya alam,” ujarnya.

Senada, Bambang Catur mengungkapkan, dulu nalayan di dekat pesisir Selat Madura bisa hidup tercukupi dengan oleh sumber daya ikan di kawasan itu, namun sejak ada penambangan pasir besi, para nelayan tidak bisa lagi menebar jala di situ. Mereka harus menyelam ke kedalaman untuk mencari kerang.

Tak hanya itu, Catur juga menyampaikan berbagai peristiwa kerusakan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo, mulai beragam industrialisasi hingga fenomena lumpur Lapindo.

“Tahun 2006, ketika semburan lumpur mulai terjadi di Kecamatan Siring mengejutkan banyak orang. Ada kepercayaan penduduk setempat bahwa ada wilayah yang tidak boleh dilakukan pengeboran hingga ke jauh ke bawah tanah. Kepercayaan mereka ada sesuatu di bawah sana yang tidak boleh “diganggu”. Kepercayaan itu mereka pelihara turun temurun. Sehingga Ketika tanah mereka diminta untuk dibor, mereka menolak.

“Jika menengok kembali di Kecamatan Porong, penderita penyakit ISPA di Puskesmas Porong, angkanya sekitar 12 ribu pada 2005, namun setiap tahun naik berlipat hingga mencapai 60 ribu di tahun 2010. Walaupun tidak bisa begitu saja menuding Lumpur Lapindo sebagai penyebab ISPA,” tutur Catur.

Catur melanjutkan, ada pemeriksaan yang lebih mendalam yang dilakukan kemudian, tak hanya udara dan air, namun juga diperiksa perilaku masyarakatnya, sehingga ditemukan adanya bahan-bahan aktif yang dapat menghambat tumbuh-kembang anak. Namun yang menjadi masalah adalah kebijakan pembangunan yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, ini masih terus berlanjut, bahkan diperpanjang untuk berpuluh tahun berikut.

Join Channel Aksaraindonesia.id untuk mendapatkan update berita terbaru setiap hari.
🛡️ STATUS VERIFIKASI
PT Aksara Indonesia Abyudaya
TERVERIFIKASI
Dokumen & Media ini telah terverifikasi resmi oleh
SMSI JAWA TIMUR

AksaraIndonesia.id

Iklan Jitu

Mobil Motor • Properti • Ragam • Lowongan • Kerjasama Advertorial

Harga Bersahabat, Berkualitas, dan Terpercaya

📱 Hubungi Sekarang

Follow Us

Join WhatsApp Channel

Join Channel
x
x
Dany Williams

Dany Williams

Typically replies within an hour

I will be back soon

Dany Williams
Berita Terkini, Ekslusif
di WhatsApp AKSARA Indonesia
Berita Terbaru, Eksklusif di Channel Aksara Indonesia