Lora Nur Salim: Pesantren Bukan Feodalisme, Tapi Madrasah Hati”

Siska Prestiwati
15 Oct 2025 10:49
2 minutes reading

Bangkalan (Aksaraindonesia.id) – Suara hati datang dari salah satu ulama Pondok Pesantren Darur Rohman, Morombuh, Kwanyar, Bangkalan, Lora Nur Salim. Ia menyoroti cara sebagian media nasional menggambarkan dunia pesantren dengan narasi yang menurutnya tak adil.

“Ketika sekolah-sekolah formal banyak murid yang berani kepada guru, bahkan tak tahu etika dan sopan santun, media diam saja. Tapi ketika pesantren mengajarkan tata krama, menghormati guru, dan berempati kepada sesama, justru diframing negatif,” ujar Lora Nur dengan nada prihatin, Rabu (15/10/2025).

Menurutnya, pemberitaan yang seolah menggambarkan pesantren sebagai tempat feodal atau tertutup sangat melukai hati para santri dan kiai. Padahal, nilai-nilai yang diajarkan di pesantren justru menjadi akar moral bangsa — tentang hormat, persaudaraan, dan kemanusiaan.

“Apakah demi sesuap nasi, dunia media harus menjatuhkan pesantren dan para kiai? Kami merasa seperti dituduh tanpa diberi ruang bicara,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Majlis Dzikir Jama’i ini.

Bagi Lora Nur, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Di sana, para santri diajarkan arti gotong royong, persatuan, dan toleransi. Nilai-nilai yang menjadi fondasi Indonesia bisa tetap damai dan utuh hingga kini.

“Indonesia ini bisa aman dan tenteram karena pesantren dan para kiai yang mengajarkan cinta tanah air dengan cara sederhana: saling menghormati dan menghargai sesama,” tutupnya dengan lirih.

13-03-2026

5-5-2026