

Pasuruan (Aksaraindonesia.id) – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyebut pondok pesantren memiliki peran besar sebagai akar pendidikan yang membentuk karakter dan kehidupan berbangsa. Menurutnya, pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh yang berkontribusi bagi bangsa.
Hal itu disampaikan Lia saat melakukan napak tilas sejarah di Pondok Pesantren Canga’an, Bangil, Kabupaten Pasuruan, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang.
Lia mengatakan Pesantren Canga’an yang berdiri sejak 1710 M memiliki nilai sejarah yang tinggi karena menjadi tempat menimba ilmu para ulama yang kemudian mendirikan NU.
“Pondok Pesantren Canga’an ini punya nilai sejarah yang sangat tinggi. Pondok ini bukan sekadar tua, melainkan tempat menimba ilmu para pendiri NU, sehingga bisa dibilang titik awal NU berasal dari sini,” kata perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
Pesantren yang didirikan Syekh Jalaluddin atau Mbah Lowo Ijo itu tercatat pernah menjadi tempat belajar sejumlah tokoh besar, di antaranya Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, hingga KH Hasbullah, ayah KH Wahab Chasbullah.
Karena peran historis tersebut, Lia menyebut Pesantren Canga’an layak disebut sebagai “Rumah Besar Nahdlatul Ulama”. Menurutnya, pesantren ini menjadi salah satu mata rantai penting dalam perjalanan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Dalam kunjungannya, Lia juga mengapresiasi keluarga besar dan dzurriyah pengasuh Pesantren Canga’an yang dinilai konsisten menjaga keaslian bangunan serta mempertahankan keberadaan pesantren hingga kini.
“Saya mengapresiasi keluarga besar Pesantren Canga’an yang tetap konsisten mempertahankan pesantren ini. Merawat Pesantren Canga’an sama artinya dengan merawat sejarah NU dan kebangsaan,” ujarnya.
Bagi Lia, kunjungan tersebut juga memiliki makna pribadi. Sebab, almarhum ayahnya, KH Masykur Hasyim, pernah menjadi santri di Pesantren Canga’an sebelum melanjutkan pendidikan ke Pesantren Tambakberas, Jombang.
Ia mengaku terharu saat mengunjungi kawasan Jerambah KH Hasyim Asy’ari di kompleks pesantren. Bahkan, ia menyempatkan melihat kamar yang diyakini pernah ditempati sang ayah selama menuntut ilmu.
“Masyaallah, Pesantren Canga’an ini bukti nyata bahwa pendidikan pesantren adalah akar pengetahuan kehidupan berbangsa. Di sinilah ayah saya menimba ilmu sebelum melanjutkan ke Tambakberas Jombang,” pungkasnya.

