Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus

Lusiana Rujiatini
3 Mar 2026 21:12
2 minutes reading

Jakarta (Aksaraindonesia.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara disebut menjadi wilayah yang lebih dulu merasakan peralihan musim tersebut.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan awal kemarau yang lebih cepat dipengaruhi dinamika iklim global di Samudera Pasifik. Saat ini kondisi iklim berada pada fase netral setelah fenomena La Niña lemah berakhir pada Februari 2026.

“Selain itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap berada pada fase netral sepanjang tahun,” ujar Faisal seperti dikutip dari laman BMKG, Rabu (4/3/2026).

BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada April 2026. Zona musim merupakan pembagian wilayah yang memiliki pola musim hujan dan kemarau relatif sama.

Beberapa wilayah yang diperkirakan lebih dulu memasuki musim kemarau antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta wilayah di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, dan Sulawesi.

Perubahan arah angin dari angin musim barat menuju angin musim timur menjadi salah satu indikator dimulainya musim kemarau di wilayah tersebut.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan wilayah lain akan menyusul memasuki musim kemarau pada bulan berikutnya.

Rinciannya, pada Mei 2026 sebanyak 184 ZOM atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia mulai kemarau. Sementara pada Juni 2026 diperkirakan 163 ZOM atau sekitar 23,3 persen wilayah juga mengalami kondisi serupa.

Dengan demikian, total 325 ZOM atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari kondisi normal. Wilayah yang berpotensi lebih dulu kering meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian Sulawesi, Maluku hingga sebagian Papua.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Agustus 2026. Sekitar 61,4 persen wilayah diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut, sementara 12,6 persen wilayah pada Juli dan 14,3 persen wilayah pada September.

Selain datang lebih awal, sifat musim kemarau tahun ini juga diprediksi cenderung lebih kering. BMKG mencatat sekitar 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah berpotensi mengalami kemarau di bawah normal.

“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari biasanya,” kata Faisal.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, kementerian, dan masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini untuk mengurangi dampak musim kemarau, seperti potensi kekeringan, penurunan kualitas udara, hingga kebakaran hutan dan lahan.

13-03-2026

5-5-2026