
Mina (Aksaraindonesia.id) – Kepadatan jemaah pada puncak ibadah haji 2026 membuat sejumlah jamaah terpaksa menempuh perjalanan kaki menuju kawasan Jamarat. Hal itu juga dialami anggota DPD RI Lia Istifhama, yang harus berjalan di tengah arus manusia demi memenuhi komitmennya menemui rombongan asal Jawa Timur.
Suasana jalur pejalan kaki di Mina sejak pagi hingga siang memang sangat padat. Banyak jamaah memilih berjalan kaki karena akses bus shalawat tersendat. Meski demikian, Ning Lia menyebut bahwa kewajiban ibadah dan amanah kepada konstituen tetap menjadi prioritasnya.
“Tidak mudah menembus padatnya jalur. Tapi ketika sudah berjanji untuk bertemu jamaah, maka komitmen itu harus ditepati,” ujarnya.
Ia berjalan lebih dari 30 menit menyusuri arus jemaah dari berbagai negara. Di tengah teriknya suhu dan derasnya pergerakan massa, Ning Lia mengaku justru merasakan ketenangan tersendiri.
“Di situ kita belajar tentang keteguhan. Ini bukan hanya perjalanan fisik, tapi perjalanan menjaga amanah,” tambahnya.
Petugas Selalu Siaga
Fenomena jamaah berjalan kaki menjadi salah satu dinamika haji tahun ini. Namun menurut Ning Lia, pelayanan terhadap jamaah tetap terasa di setiap titik jalur yang dilaluinya. Petugas haji Indonesia terlihat siaga di berbagai area, memberi arahan hingga membantu jamaah yang mulai kelelahan.
“Kita mungkin berjalan sendiri, tapi tidak pernah benar-benar sendiri. Petugas selalu tampak di depan mata,” kata Ning Lia.
Ia menilai kesiagaan tersebut merupakan hasil kolaborasi besar berbagai pihak, mulai dari Kementerian Haji dan Umrah, PPIH Arab Saudi, hingga petugas lintas sektor.
Tips Saat Terpisah dari Rombongan
Dari pengalamannya menembus kepadatan menuju Jamarat, Ning Lia membagikan sejumlah langkah keamanan bagi jamaah yang mungkin berjalan sendirian atau terpencar dari rombongan:
1. Komunikasi harus aktif.
Ia memastikan selalu terhubung dengan keluarga dan rombongan, termasuk membagikan lokasi secara real-time.
“Teknologi itu penting, tapi kesadaran menggunakannya jauh lebih penting,” ujarnya.
2. Jangan ragu meminta bantuan.
Petugas haji adalah titik teraman bagi jamaah yang tersesat atau kelelahan.
3.Tetap tenang dalam kondisi apa pun.
“Panik hanya memperburuk situasi. Di Tanah Suci, kita diajarkan percaya bahwa setiap langkah dijaga,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Perjalanan
Ning Lia menyebut perjalanan menuju Jamarat itu bukan hanya tentang menunaikan lempar jumrah, tetapi juga pengingat bahwa ibadah haji mengajarkan keberanian, keikhlasan, dan kepedulian antarsesama.
“Di tengah jutaan orang, kita belajar bahwa ibadah bukan sekadar ritual, tapi juga perjalanan batin,” pungkasnya