
Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Kasus human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) di Indonesia saat ini ibarat fenomena gunung es yang berkembang dalam senyap. Lonjakan infeksi baru yang mulai didominasi oleh kelompok usia muda memicu keprihatinan mendalam dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, atau yang akrab disapa Ning Lia. Senator muda ini menilai situasi ini sudah masuk dalam fase darurat yang memerlukan tindakan konkret dari seluruh elemen masyarakat.
Ning Lia mengungkapkan rasa kekhawatirannya melihat data penularan yang kian mengancam masa depan generasi penerus bangsa. Dirinya menyoroti bagaimana penyakit menular mematikan ini tidak lagi hanya menjangkiti usia dewasa, melainkan sudah merambah secara masif ke kalangan remaja yang masih duduk di bangku sekolah.
“Ini bukan lagi sekadar alarm biasa, ini adalah tanda awas bahwa anak-anak muda kita sedang berada dalam bayang-bayang ancaman nyata,” ujar Ning Lia.
Berdasarkan data pendukung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kekhawatiran Ning Lia memang sangat beralasan. Laporan nasional mencatat estimasi jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) di Indonesia kini menyentuh angka sekitar 564.000 orang. Tragisnya, data akumulasi menunjukkan bahwa sebagian besar kasus baru yang terdeteksi justru ditemukan pada kelompok usia produktif dan dewasa muda.
Kemenkes memaparkan bahwa sebanyak 25 persen kasus terbaru HIV ditemukan langsung pada kelompok remaja dan usia muda. Jika ditarik rentang yang lebih luas pada usia produktif (20-49 tahun), persentasenya bahkan melonjak hingga nyaris 90 persen dari total keseluruhan kasus yang dilaporkan di tanah air.
Fakta mencengangkan ini membuktikan bahwa episentrum penularan virus telah bergeser drastis ke arah generasi z dan milenial.
Lebih lanjut, potret penyebaran wilayah juga menunjukkan adanya konsentrasi tinggi di beberapa daerah urban. Sebanyak 76 persen kasus HIV di Indonesia terkonsentrasi di 11 provinsi utama, di mana DKI Jakarta dan Jawa Timur menempati posisi teratas akibat tingginya mobilitas penduduk.
Mengetahui daerah pemilihannya (Jawa Timur) berada di zona merah, Ning Lia mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap strategi pencegahan yang selama ini berjalan.
Ning Lia menekankan bahwa perubahan pola penularan menjadi faktor utama yang harus diwaspadai. Jika dahulu penularan HIV didominasi oleh penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna narkoba, kini polanya didominasi oleh aktivitas hubungan seksual berisiko tanpa pengaman. Minimnya pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pergaulan bebas dituding menjadi jembatan utama melesatnya angka infeksi ini.
Guna menekan angka penularan yang kian liar, srikandi DPD RI ini mendorong pemerintah daerah untuk meluncurkan program edukasi yang lebih agresif, inklusif, dan tidak tabu. Menurutnya, pendekatan preventif berupa literasi kesehatan seksual harus masuk ke sekolah-sekolah dan pondok pesantren dengan gaya penyampaian yang dapat diterima oleh psikologis anak muda masa kini.
Di samping peran pemerintah, keponakan Khofifah Indar Parawansa ini juga mengingatkan bahwa benteng pertahanan terkuat sebenarnya berada di dalam lingkungan keluarga. Orang tua diminta tidak menutup mata dan harus membangun ruang dialog yang jujur serta terbuka dengan anak-anak mereka. Kehadiran keluarga sebagai pendamping dinilai mampu membentengi anak dari pengaruh buruk lingkungan luar.
Menutup narasinya, Ning Lia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif terhadap penderita HIV agar mereka yang berisiko tidak takut untuk melakukan skrining kesehatan. Melalui langkah kolaboratif yang solid antara pemerintah, keluarga, dan tokoh masyarakat, diharapkan Indonesia mampu memutus rantai penularan dan menyelamatkan generasi emas dari kehancuran.