Suli Da’im: Meningkatnya Kasus HIV pada Remaja Harus Menjadi Alarm Bersama, Bukan Ruang untuk Stigma

Siska Prestiwati
26 Jun 2026 10:30
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, M.M., menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kasus HIV yang melibatkan kelompok usia remaja. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan persoalan serius yang tidak dapat dipandang semata sebagai isu kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan pendidikan, ketahanan keluarga, perkembangan psikologi remaja, serta lingkungan sosial di era digital.

Suli Da’im menegaskan bahwa pemerintah, sekolah, keluarga, organisasi keagamaan, dan masyarakat harus memperkuat sinergi dalam melindungi generasi muda dari berbagai perilaku berisiko.

“Banyaknya remaja yang terpapar HIV adalah alarm bagi kita semua. Ini bukan saatnya saling menyalahkan atau memberikan stigma, melainkan momentum untuk memperkuat edukasi, pendampingan, dan pembinaan karakter anak-anak kita. Mereka membutuhkan perlindungan, bukan penghakiman,” ujarnya.

Sebagai anggota Komisi E yang membidangi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat, Suli Da’im menilai pencegahan HIV harus dimulai dari penguatan institusi keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama dalam membangun karakter, akhlak, dan kemampuan remaja menghadapi berbagai tantangan pergaulan.

Ia menambahkan bahwa masa remaja merupakan fase transisi yang penuh perubahan biologis, psikologis, dan sosial sehingga sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan apabila tidak dibekali nilai-nilai agama, moral, dan literasi kesehatan yang memadai.

Suli Da’im juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat program edukasi kesehatan reproduksi, kesehatan mental, dan pencegahan HIV yang disampaikan secara komprehensif, ilmiah, serta sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama. Selain itu, layanan konseling bagi remaja perlu diperluas agar mereka memiliki ruang yang aman untuk berkonsultasi tanpa rasa takut.

Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang pembentukan karakter, penguatan literasi digital, dan pengembangan keterampilan hidup (life skills) agar remaja mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

“Investasi terbesar bangsa bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi membangun kualitas manusianya. Jika kita gagal menjaga generasi muda hari ini, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan Jawa Timur dan Indonesia,” tegasnya.

Suli Da’im mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memperkuat gerakan pencegahan HIV melalui pendekatan promotif dan preventif, tanpa diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). Ia menegaskan bahwa mereka tetap memiliki hak untuk memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, serta kehidupan yang bermartabat.

“Nilai kemanusiaan harus selalu dikedepankan. Pencegahan harus diperkuat, edukasi harus diperluas, sementara mereka yang telah terinfeksi harus didampingi agar tetap memiliki harapan hidup yang baik. Dengan kolaborasi semua pihak, kita dapat menyelamatkan generasi muda Jawa Timur dari ancaman HIV sekaligus membangun masa depan yang lebih sehat, berkarakter, dan berdaya saing,” pungkasnya.

5-5-2026

Arsip Berita :