
Jakarta (Aksara Indonesia. Id) – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan operasi militer terhadap Iran yang bisa berlangsung cukup lama. Operasi tersebut bahkan disebut dapat berjalan hingga sekitar 100 hari atau sampai September.
Laporan itu disampaikan oleh surat kabar Politico yang mengutip dokumen internal Pentagon. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa rencana operasi militer terhadap Iran terus mengalami perubahan jadwal.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Rabu (4/3) disebut kembali menyesuaikan perkiraan durasi operasi militer menjadi sekitar delapan minggu. Sebelumnya, rencana tersebut diperkirakan hanya berlangsung sekitar empat hingga lima minggu.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menetapkan tenggat waktu empat hingga lima minggu untuk menyelesaikan operasi militer terhadap Iran apabila serangan memang dilakukan.
Di sisi lain, United States Central Command (CENTCOM) dilaporkan telah meminta tambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida. Permintaan tersebut ditujukan untuk memperkuat dukungan intelijen dalam operasi yang berkaitan dengan Iran.
Menurut laporan Politico, langkah penambahan personel intelijen ini mengindikasikan bahwa Pentagon sedang menyiapkan skenario operasi yang berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. Hal itu juga menunjukkan bahwa pemerintah AS kemungkinan sebelumnya meremehkan skala konflik yang mungkin terjadi.
Selain itu, Washington juga dilaporkan mulai memperkuat kemampuan evakuasi bagi warga negara Amerika di kawasan Timur Tengah. Pemerintah AS juga meningkatkan sumber daya untuk pengumpulan intelijen di wilayah tersebut.
Politico menilai langkah-langkah itu menandakan pemerintahan Trump masih mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas dengan Iran.
Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Tehran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta menimbulkan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.