
Surabaya (Aksaraindonesia.id) –Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menambah jajaran guru besar. Sebanyak lima profesor baru dikukuhkan dalam Sidang Terbuka Dewan Profesor ITS yang digelar di Auditorium Research Center ITS, Kamis (11/6/2026).
Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya ITS memperkuat kontribusi akademik dan riset dalam menjawab berbagai tantangan bangsa, mulai dari energi terbarukan, kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, keamanan informasi hingga pengelolaan infrastruktur maritim.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, mengatakan jabatan profesor bukan sekadar puncak karier akademik, melainkan amanah yang membawa tanggung jawab lebih besar kepada masyarakat.
“Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula amanah untuk memberikan manfaat,” ujar Bambang dalam sambutannya.
Profesor pertama yang menyampaikan orasi ilmiah adalah Doty Dewi Risanti. Guru Besar ke-237 ITS itu mengangkat tema pemanfaatan limbah aluminium sebagai sumber energi hijau melalui hidrogen.
Menurutnya, aluminium memiliki potensi besar sebagai media penyimpan energi karena dapat menyimpan energi dalam bentuk padat pada kondisi lingkungan normal.
“Aluminium mampu menyimpan energi dalam bentuk padat sehingga lebih aman, mudah ditransportasikan, dan hanya membutuhkan infrastruktur yang sederhana,” jelasnya.
Selanjutnya, Guru Besar ke-238 ITS Ary Mazharuddin Shiddiqi membahas perkembangan kecerdasan buatan melalui konsep continual learning atau pembelajaran berkelanjutan. Dalam orasinya yang berjudul Dari Kecerdasan Statis Menuju Kecerdasan Adaptif, ia menjelaskan bahwa sistem AI masa depan akan dirancang menyerupai cara manusia belajar secara terus-menerus.
“Kami ingin membuat sistem yang secara dinamis dapat mendistribusikan beban kerja berdasarkan ketersediaan dan tren penggunaan,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Sistem Informasi ITS, Sholiq, menyoroti transformasi pembiayaan proyek perangkat lunak di era microservice dan sistem berbasis AI. Menurutnya, kajian tersebut semakin relevan seiring percepatan digitalisasi di berbagai sektor.
“Keilmuan ini sangat penting di tengah pesatnya transformasi digital pada pemerintahan, industri, pendidikan, maupun layanan publik modern,” ujarnya.
Orasi berikutnya disampaikan Guru Besar Departemen Matematika ITS, Mahmud Yunus. Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana analisis fungsional berperan dalam pengembangan teknologi pengolahan informasi modern, termasuk keamanan data dan pengolahan citra digital.
“Pendekatan ini menjadi kunci dalam melahirkan metode keamanan informasi dan pengolahan citra digital demi membangun ketahanan dan kemandirian bangsa,” tuturnya.
Pengukuhan lima profesor baru ditutup dengan orasi ilmiah dari Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS, Silvianita. Ia mengangkat pentingnya manajemen risiko dalam pengelolaan infrastruktur maritim yang aman dan berkelanjutan.
Menurutnya, manajemen risiko tidak hanya berfungsi sebagai instrumen mitigasi, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam mengelola sistem maritim yang kompleks.
“Pendekatan ini menempatkan manajemen risiko sebagai landasan utama pengelolaan sistem maritim yang kompleks dan dinamis,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Profesor ITS, Imam Robandi, menegaskan bahwa seorang profesor harus memiliki kebebasan akademik dalam mengembangkan riset dan gagasannya.
“Seorang profesor dituntut merdeka dalam berpikir dan memetakan arah risetnya demi kemajuan bidang keilmuan yang diampunya,” tegasnya.
Dengan bertambahnya lima guru besar baru, ITS kini memiliki total 241 profesor. Kampus teknologi terbesar di Indonesia timur itu berharap kehadiran para profesor baru dapat melahirkan inovasi dan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan nasional