Olin Pristy

Diam adalah pelabuhan yang kupilih kini
Tempat sunyi menampung luka yang tak terlihat
Kubiarkan kata-kata berlayar tanpa perlu kembali
Agar jiwaku tak lagi digeret deras oleh racun yang melekat.
Kubiarkan jarak tumbuh seperti pagar bening
Pantas menjaga nafas yang mulai rapuh
Tak semua yang mendekat layak kuberi kening
Terkadang senyum mereka membawa badai yang menggerus tubuh
Ada damai dalam memilih pergi tanpa suara
Serupa daun yang jatuh tanpa menuntut musim
Kupeluk sunyi sebelum dunia merampasnya
Di sana batinku kembali menemukan ritme yang teredam dan asing.
Tak perlu membalas racun dengan kata yang lebih luka
Karena diam lebih tajam daripada kemarahan liar
Setiap langkah menjauh sebenarnya adalah doa
Doa agar hati tak lagi dipaksa untuk terus bertarung dan memar.
Terkadang yang paling baik adalah tidak kembali
Meski pintu masa lalu terus mengetuk malam
Jarak bisa menjadi pelindung dari diri sendiri
Agar tidak lagi runtuh oleh tangan yang pura-pura menggenggam
Kupilih sunyi seperti memilih rumah
Karena di sana tak ada wajah yang menyamar sebagai kawan
Kupilih diam seperti memilih udara yang ramah
Agar setiap helanya tak lagi membawa beban.
Jika mereka menyebutku pengecut karena menjauh
Biarlah, hatiku bukan arena untuk dipertontonkan
Aku hanya menjaga jiwa yang hampir roboh
Agar tak runtuh sekali lagi oleh racun yang diulurkan
Dalam diam, aku belajar merawat diriku sendiri
Menyiram luka yang tak tampak di permukaan
Dalam menjauh, kutemukan kembali arti berdiri
Bahwa jiwa pun butuh jarak untuk tumbuh perlahan-lahan
Tak semua orang berhak tahu tentang pertempuran batinku
Karena beberapa luka hanya dapat sembuh dalam gulita
Mereka tak akan mengerti bagaimana langkah itu membebaskanku
Ketika aku memilih diam demi menjaga nyawa rasa.
Dan malam adalah saksi bagaimana aku pulih perlahan
dengan nafas yang tak lagi digenggam racun
Kutinggalkan kebisingan demi menemukan kehidupan
dan dalam diam, akhirnya kutemukan diriku utuh tanpa tekanan.