
Surabaya (aksaraindonesia.id) – Film Seribu Bayang Purnama rupanya bukan sekedar drama romansa. Film yang disutradarai Yahdi Jamhur ini adalah satu dari sedikit film yang mengangkat konflik pertanian di negeri ini.
Ditemui sebelum pemutaran film di Tunjungan Plaza XXI, Rabu (09/07/2025), Yahdi mengatakan, konflik pertanian yang disorot adalah posisi petani di negeri agraris ini yang tidak berdiri sebagai subyek atau produsen, namun hanya sebagai obyek, tidak bisa merdeka.
Hal ini membuat petani seringkali menempatkan petani dalam posisi yang serba terjepit di antara tingginya harga pupuk, efek samping pupuk pabrikan, kuantitas produksi, fluktuasi harga pasar dan berbagai persoalan lain yang kerap dihadapi petani.
“Di sinilah, film ini tidak hanya menampilkan realitas yang terjadi dan melontarkan kritik, namun juga menawarkan solusi dari permasalahan yang dihadapi petani,” ucap Yahdi.
Solusi ini yang ditawarkan oleh tokoh Putro dalam film ini dengan cara tidak lagi menggunakan pupuk pabrikan, namun membuat sendiri pupuk alami untuk menekan Harga Pokok Produksi (HPP).
Yahdi juga mengatakan bahwa film ini sejalan dengan semangat pemerintah untuk menumbuhkan swasembada pangan, ketahanan pangan, bahkan kesejahteraan petani.
“Ini sejalan,” tegasnya.
Pembuatan film ini sendiri terinspirasi dari sejumlah petani yang berhasil menerapkan berbagai pupuk dan pestisida alami.
“Sancho Soares Marques, petani asal NTT Kupang yang berhasil menerapkan sistem ini, yang telah memberikan inspirasi untuk film ini,” ungkapnya.
Meski terlihat antusias penonton yang cukup tinggi saat film produksi Baraka Film ini ditayangkan di Tunjungan Plaza 1 Surabaya, Yahdi mengaku tidak memasang target yang tinggi untuk jumlah penonton.
Yahdi mengaku, mendedikasikan film ini sebagai penghargaan untuk para petani.
“Film ini adalah karpet merah untuk petani,” tutupnya.
Sederet artis yang membintangi film yang diproduksi di Bantul Yogyakarta ini di antaranya Marthino Lio, Nugie, Givina, Aksara Dena, dan Whani Dharmawan.end