Santri Jatim Segel Kantor Trans7, Terkait Polemik Framing Negatif Tayangan Video Ponpes Lirboyo

Endang Pergiwati
16 Oct 2025 18:32
3 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Aksi segel Kantor Trans7 yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Surabaya dilakukan berbagai organisasi santri dan badan otonom Nahdlatul Ulama di Jawa Timur. Aksi ini adalah buntut dari tayangan framing negatif dari Trans7 terkait budaya atau kebiasaan di Pondok Pesantren Lirboyo.
Sejak hari Selasa, (14/10/2025) di depan kantor tersebut, memang didatangi oleh para santri dan alumni santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Bahkan pada hari kedua, massa aksi dari berbagai elemen juga turut melakukan aksi.

Hari ini, Kamis (16/9/2025) menjadi istimewa dengan bergabungnya para legislator Kota Surabaya turut hadir dan berorasi menyampaikan kekecewaannya atas framing yang dilakukan stasiun televisi swasta nasional tersebut, di antaranya Muhaimin, Tubagus Lukman Amin dan Muhammad Saifuddin.

“Mereka tidak pernah turun langsung ke pesantren. Mereka hanya mengambil cupilkan-cuplikan dan mengedit. Ini membuat hati kita semua terluka. Saya tidak habis pikir, mengapa stasiun televisi nasional sekelas Trans7 bisa melakukan itu. Luar biasa telah memframing jahat terhadap pesantren dan kyai. Kita semua yang berada disini benar-benar terluka. Hati saya menangis bagaimana martabat kyai diinjak-injak,” ujar Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Tubagus Lukman Amin, di Jalan Yos Sudarso Surabaya, Kamis (16/10/2025).

Muhaimin yang juga Anggota Komisi A DPRD Surabaya memulai orasinya dengan memekikkan takbir “Allahu Akbar!”. Dia menegaskan bahwa setelah membaca dan melihat apa yang ditampilkan Trans 7, Dirinya merasa prihatin.

“Saya kecewa, kami merasakan hal yang sama dengan kalian semua. Melihat apa yang diframing di media sosial oleh Trans7. Hati saya ini robek, Kyai sepuh saya diinjak, diremehkan, telah direndahkan. Bahkan kegiatan-kegiatan santri dibilang diperbudak. Ini luar biasa. Kami, saya beserta kalian semua ini sama bahwa kalau nama santri, kalau nama Kyai di framing jahat dan direndahkan sakit hati saya ini. Maka Saya sudah berkomentar di media massa, di lingkungan dan diantara kami di Komisi A DPRD Surabaya bahwa ini menandakan bahwa Trans7 biadab bagi kita sebagai santri. Mari kita tetap istiqomah membela Kyai, membela pesantren,” paparnya.

Muhaimin juga menyatakan bahwa sejarah sudah membuktikan bahwa negara ini tanpa pesantren dan tanpa para kiai tanpa para santri tak akan bisa menikmati kemerdekaan. Melalui K.H. Hasyim Asy’ari keluarlah resolusi jihad dalam membela tanah air dan kemerdekaan Republik Indonesia ini.

Orasi yang tak kalah menggelorakan massa aksi juga diteriakkan oleh Muhammad Saifuddin, Anggota Komisi A DPRD Surabaya. Dia mengajak massa aksi berikrar dengan mengucapkan,
Kami Santri Indonesia bersumpah bertanah air satu. Tanah air tanpa penindasan.
Kami Santri Indonesia bersumpah berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
Kami Santri Indonesia bersumpah berbahasa satu, bahasa kebenaran, bahasa anti penindasan.

“Sahabat-sahabatku sekalian, ingin saya tegaskan bahwa para santri dididik untuk berdikari, Bahkan Kiai Haji Abdurrahman Wahid, mantan presiden Republik Indonesia adalah santri. Jadi kalau Trans7 melakukan penindasan dan penghinaan kepada santri dan pesantren, Jawabnya hanya satu kata lawan!!” teriak Bang Udin sapaan akrab Muhammad Saifuddin.

5-5-2026

Arsip Berita :