
Jakarta (Aksaraindonesia.id) – Tangis pecah di sejumlah rumah duka di Tanah Air. Tiga keluarga menanti kepulangan orang terkasih yang berangkat sebagai penjaga perdamaian, namun pulang dalam peti berselimut bendera Merah Putih. Tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi PBB di Lebanon itu kini menjadi bagian dari cerita kehilangan yang tak akan pernah dilupakan keluarganya.
Mereka adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon—tiga nama yang beberapa hari lalu masih aktif berkomunikasi dengan keluarga, mengabarkan kabar baik, dan menjanjikan kepulangan. Kini, telepon-telepon itu tak akan pernah berdering lagi.
Tugas Perdamaian yang Berakhir Tragis
Panglima TNI Jenderal Agus Subianto mengungkapkan bahwa ketiga prajurit itu gugur saat menjalankan tugas sebagai bagian dari UNIFIL. Negara, kata Agus, memberikan penghormatan tertinggi berupa kenaikan pangkat anumerta dan Medal Dag Hammarskjold.
“Negara hadir untuk keluarga mereka. Pengorbanan ini terlalu besar untuk dilupakan,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).
Duka yang Menyisakan Ketegaran Keluarga
Di rumah Kapten Inf Zulmi, istrinya sempat bercerita bahwa sang suami berjanji pulang pada pertengahan tahun. Putra sulungnya, yang masih duduk di sekolah dasar, bertanya berulang kali, “Ayah kapan pulang?” Kini, jawabannya berubah menjadi, “Ayah pulang hari ini… tapi tidak seperti yang kita bayangkan.”
Begitu pun di rumah Sertu Nur Ikhwan, ibunya masih menyimpan voice message terakhir yang dikirim sang anak. Ia memutarnya berulang kali, berusaha menahan isak. Sedangkan keluarga Praka Farizal menggenggam erat foto terakhir yang dikirimnya dari Lebanon—foto yang kini menjadi kenangan abadi.
Santunan Negara: Tak Pernah Setara dengan Kehilangan
Negara memberikan santunan tunai sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka:
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar: Rp 1.894.688.236
Sertu Muhammad Nur Ikhwan: Rp 1.846.309.049
Praka Farizal Rhomadhon: Rp 1.854.075.205
Santunan itu mencakup asuransi, bantuan pendidikan anak, santunan PBB, hingga gaji terusan selama setahun. Namun bagi keluarga, uang sebesar apa pun tak mampu menggantikan sosok yang mereka cintai.
“Yang hilang adalah suami saya… ayah anak-anak saya. Tidak ada yang bisa menggantikan itu,” ujar salah satu istri prajurit dengan suara bergetar.
Ledakan yang Mengubah Segalanya
Praka Farizal tewas lebih dahulu setelah proyektil meledak di dekat pos mereka di Lebanon Selatan pada Minggu (29/3). Sehari kemudian, dua rekannya menyusul setelah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di wilayah Bani Hayyan.
Ledakan itu bukan hanya memutus nyawa tiga prajurit, tetapi juga memutus puluhan harapan di pundak keluarga mereka.
Presiden Prabowo: Mereka Pergi sebagai Pahlawan
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa mendalam. Ia menuliskan doa dan penghormatan lewat akun Instagram resminya.
“Mereka berangkat membawa misi perdamaian, dan pulang sebagai pahlawan,” tulis Prabowo.
Nama Mereka Akan Tetap Hidup
Di tengah duka, keluarga, rekan satuan, dan negara sepakat: pengorbanan ketiganya tidak akan dilupakan. Anak-anak mereka akan tumbuh dengan cerita bahwa ayahnya pernah menjaga dunia tetap aman. Bahwa kepergian mereka adalah bagian dari sejarah pengabdian Indonesia di kancah internasional.
Para prajurit itu mungkin telah pergi, tetapi nama mereka akan terus hidup—di ingatan keluarga, di hati bangsa, dan dalam setiap upaya Indonesia menjaga perdamaian dunia.