Serap Aspirasi di Prigen, Lia Istifhama Dorong Pembangunan Berbasis Lingkungan

Siska Prestiwati
20 Jul 2026 21:57
3 minutes reading

Pasuruan (Aksaraindonesia.id) – Anggota MPR RI periode 2024-2029, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., menegaskan pentingnya pembangunan nasional yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan. Pesan itu disampaikannya saat menggelar kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Senin (20/7/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Pembangunan Nasional Berwawasan Lingkungan” itu dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan ulama, di antaranya Prof. KH. Dr. Muhibbin Zuhri, M.Ag., KH. Mukarrom Arief Ibrahim, Marjiin Syam, serta Abdul Mujib HU. Forum tersebut juga diikuti warga Prigen, Kabupaten Pasuruan, serta perwakilan masyarakat dari Kecamatan Rungkut, Surabaya.

Dalam dialog tersebut, Lia membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari pengelolaan lingkungan, tata ruang, hingga dampak pembangunan terhadap kehidupan sehari-hari.

Menurut Lia, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari berdirinya infrastruktur atau meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi. Ia menilai pembangunan harus mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat saat ini dan keberlangsungan lingkungan di masa mendatang.

“Setiap kebijakan pembangunan harus berpihak kepada masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Jangan sampai pembangunan memberikan manfaat jangka pendek, tetapi meninggalkan persoalan bagi generasi berikutnya,” ujar Lia.

Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu mengatakan konsep pembangunan berkelanjutan merupakan upaya menyelaraskan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan demikian, hasil pembangunan tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga tetap memberi manfaat dalam jangka panjang.

Ia mencontohkan persoalan tata ruang, kualitas lingkungan, hingga pengelolaan sumber daya alam yang kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurutnya, kebijakan pembangunan harus disusun berdasarkan kondisi riil di lapangan serta masukan dari masyarakat.

“Aspirasi masyarakat menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan. Dengan mendengar langsung kebutuhan warga, pembangunan akan lebih tepat sasaran dan tidak berjalan secara parsial,” katanya.

Lia juga menepis anggapan bahwa penerapan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan akan menghambat investasi maupun pembangunan fisik. Sebaliknya, ia menilai pendekatan tersebut justru menjadi jaminan agar pembangunan berlangsung lebih terarah, berkeadilan, dan berkelanjutan.

“Menjaga lingkungan bukan berarti menghambat pembangunan. Justru dengan lingkungan yang tetap terpelihara, manfaat pembangunan akan dirasakan lebih lama oleh masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, Lia mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Ia berharap masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga terlibat aktif dalam mengawasi serta memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Menurutnya, forum penyerapan aspirasi menjadi salah satu sarana untuk memastikan suara masyarakat dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan di tingkat nasional.

“Dengan keterlibatan masyarakat, pembangunan akan lebih inklusif dan mampu menjawab kebutuhan daerah tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan. Itulah yang menjadi semangat pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.

x
x
WhatsApp whatsapp