Birunya Cinta di Balai Pemuda Surabaya, Sapuan Warna tentang Rasa dan Kehidupan

Siska Prestiwati
19 Jul 2025 20:18
3 minutes reading

Surabaya (aksaraindonesia.id) – Birunya Cinta hadir di Galeri DKS Kompleks Balai Pemuda Surabaya. Tapi ini bukan lagu dangdut yang poluler di tahun 2021 lalu. Ini adalah judul pameran lukisan karya pelukis Surabaya, Bayu Kabul.

Sebanyak 48 karya yang ditampilkan di atas media kertas gambar ini memang dominan berwarna biru. Bahkan ada karya dengan keseluruhan media kertas hanya diisi sapuan kuas berwarna biru.

Bayu Kabul mengatakan, pameran ini adalah akhir dari perjalanannya menemukan cinta Kembali.

“Dalam perjalanan saya menemukan cinta ini, saya menemukan biru ini. Dalam biru ini, ada hangat, juga ada dingin,” ungkapnya di malam pembukaan pameran, Sabtu (19/7/2025).

Pelukis yang juga kerap dipanggil Kabul ini sempat mengurai kisah cintanya yang kandas karena sang istri meninggal dunia setelah menikah selama 20 hari.
Hal ini membuat dirinya sangat berduka dan kesepian. Namun dalam perjalanannya melewati kesepian itu, Kabul menemukan kembali cintanya. Seorang wanita asal Jombang akan dipersuntingnya di awal Agustus 2025 mendatang.

“Kini saya menemukan cinta saya. Cinta ini harus abadi. Saya tidak mau dibunuh oleh Tuhan lagi. Inilah cinta terakhir saya. Bagi saya, dia itu biru,” papar pelukis berdarah Pamekasan-Solo ini.

“Dengan pameran Birunya Cinta ini, saya menjemput pernikahan saya,” tambahnya dengan senyum lebar.

Aku tak mencari siapa-siapa
Tapi biru ini membuatku ingin berbagi sepi yang telah lama jinak

Dua barisan kata-kata ini adalah penggalan puisi yang juga dihadirkan di antara lukisan-lukisannya.

Kabul mengakui, memang pameran ini tidak hanya menghadirkan warna biru. Ada pula sapuan warna oranye, pink dan abu-abu. Kabul menyebutnya sebagai gambaran warna.

“Banyak warna sebetulnya, namun saya menemukan biru ini di dalam diri saya,” tegasnya.

Sapuan warna biru dengan berbagai pola, horizontal, vertikal, atau melengkung yang disajikan pelukis, dalam pengamatan Dosen Seni Rupa Sekolah Tinggi Wilwatikta (STKW), Hari Prayitno, adalah bahasa dari yang tak terbahasakan.

“Dalam semua seni, di lini apapun, musik, sastra, seni rupa, adalah cara membahasakan yang tak terbahasakan. Karena bahasa sudah tidak mampu menggambarkan apa yang ada atau dialami atau dihadapi seniman. Demikian pula yang dilakukan Bayu Kabul,” ucap Hari Prayitno.

Selain itu, dalam pameran tunggal ketiga dari pelukis Bayu Kabul ini, Hari juga melihat Kabul yang spontan.

“Kabul ini spontan, tanpa dimanis-manis, tanpa dipercantik, atau dipoles-poles, dipatut-patutkan. Ini namanya raw, artinya mentah, atau belum matang. Bahkan mungkin amburadul. Tapi mengapa tidak? Apakah kehidupan tidak begitu? Seperti yang dikatakan (Albert) Camus, tentang absurd, karena hidup ini memang absurd. Nah, bahasa Kabul memang begitu,” papar pengamat seni rupa ini usai membuka pameran yang berlangsung mulai Sabtu (19/7/2025) hingga Senin (21/7/2025).

Bisa jadi pengunjung yang memasuki ruang pameran juga dapat merasakan indahnya cinta seperti yang ingin diungkapkan sang pelukis. Atau mungkin justru akan membawa pengunjung pada kenangan akan cinta, tak hanya pada pasangan, mantan kekasih, keluarga, benda kesayangan, hewan peliharaan, alam, kampung halaman, diri pribadi, atau pada kehidupan itu sendiri. Pengunjung silakan menemukannya sendiri. End

13-03-2026

5-5-2026