Bukan Cuma Bicara di Forum Besar, Lia Istifhama Rajin Sambangi Anak Muda

Siska Prestiwati
8 Aug 2026 13:59
4 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Ada cara berbeda yang dilakukan Senator DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama dalam membangun komunikasi dengan generasi muda. Di tengah aktivitasnya menyuarakan berbagai isu strategis, Lia justru memilih turun langsung menemui mahasiswa, aktivis, hingga komunitas anak muda.

Bagi perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu, menyerap aspirasi tidak harus menunggu forum resmi atau acara berskala besar. Diskusi di ruang sederhana pun dinilai bisa melahirkan gagasan penting untuk pembangunan daerah.

“Pantang menolak undangan,” menjadi prinsip yang selama ini dipegang Lia ketika mendapat ajakan berdialog dari mahasiswa maupun komunitas.

Lia menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan. Karena itu, mereka tidak cukup hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan, tetapi harus diberikan ruang untuk ikut menyampaikan gagasan dan terlibat dalam proses pembangunan.

Gagasan tersebut kemudian ia kaitkan dengan konsep otonomi berkeadilan yang selama ini ia dorong. Menurutnya, otonomi daerah harus memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak muda untuk berkembang.

“Generasi muda bukan sekadar penerus. Mereka adalah bagian dari agen perubahan yang menentukan seperti apa masa depan bangsa,” ujar Lia, Sabtu (8/8/2026).

Sebagai anggota MPR RI melalui Badan Pengkajian, Lia cukup aktif mengikuti forum diskusi di tingkat nasional maupun daerah. Namun, aktivitasnya tidak berhenti di ruang-ruang formal.

Ia juga mendatangi kampus, organisasi mahasiswa, komunitas, hingga forum kecil di tengah masyarakat. Dalam berbagai kesempatan tersebut, Lia membuka ruang dialog dua arah.

Bagi Lia, kualitas percakapan jauh lebih penting dibandingkan banyaknya orang yang hadir. Karena itu, ia tidak membedakan forum besar dengan diskusi yang hanya diikuti mahasiswa dalam jumlah terbatas.

Cara tersebut membuat komunikasi Lia dengan generasi muda dinilai lebih cair. Anak muda memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat secara langsung, termasuk ketika memiliki pandangan berbeda.

Kedekatan dengan kalangan muda itu bahkan membuat Lia pernah mendapat predikat sebagai politisi idola Gen Z dari Radar Surabaya. Penghargaan tersebut dikaitkan dengan intensitas Lia berinteraksi dengan mahasiswa dan kelompok pergerakan.

Meski dikenal vokal menyampaikan pandangan, Lia tetap menekankan pentingnya etika dalam berdemokrasi. Menurutnya, keberanian menyampaikan kritik harus dibarengi kesadaran untuk menjaga persatuan dan tidak memprovokasi masyarakat.

“Kita boleh bersuara, tapi tidak ada ruang untuk provokasi. Karena generasi mendatang berhak hidup damai dan aman,” tegasnya.

Lia juga mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun kebebasan tersebut harus digunakan secara bertanggung jawab.

Menurut dia, perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru melalui dialog, perbedaan dapat menjadi bahan untuk mencari solusi yang lebih baik.

Dalam konteks pembangunan daerah, Lia berpandangan keterlibatan anak muda juga harus menjadi perhatian. Pemerintah daerah perlu menyediakan ruang bagi kreativitas, inovasi, kewirausahaan, maupun gagasan anak muda agar dapat berkembang dan memberi kontribusi terhadap perekonomian.

“Kalau kita ingin pembangunan berkelanjutan, anak muda harus dilibatkan sejak sekarang. Jangan sampai mereka baru diajak bicara ketika kebijakan sudah selesai dibuat,” ujarnya.

Salah satu kalangan muda, Fajar Yulianto, mengaku melihat karakter tersebut dalam diri Lia. Ia menilai Lia mampu memadukan keberanian menyampaikan gagasan dengan pendekatan komunikasi yang lebih dekat kepada anak muda.

“Menurut saya, Ning Lia menghadirkan wajah politik yang tegas dalam gagasan, tetapi tetap hangat ketika berdialog. Itu yang membuat anak muda merasa lebih nyaman menyampaikan pandangan,” kata Fajar.

Menurut Fajar, pola komunikasi tersebut menjadi penting di tengah perubahan karakter generasi muda. Anak muda saat ini membutuhkan figur publik yang tidak hanya berbicara dari atas podium, tetapi juga bersedia mendengar dan berdiskusi secara langsung.

Bagi Lia, membangun komunikasi dengan generasi muda bukan sekadar aktivitas politik. Lebih jauh, ruang dialog tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan suara anak muda masuk dalam pembahasan mengenai masa depan daerah.

Gagasan otonomi berkeadilan yang ia dorong pun tidak hanya berkutat pada persoalan kewenangan pemerintah daerah. Ada pesan yang lebih luas, yakni pembangunan harus membuka ruang partisipasi bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk generasi muda.

Dengan pendekatan itu, Lia berusaha menampilkan politik yang tetap lantang ketika menyuarakan kepentingan publik, namun tidak kehilangan sisi humanis dalam merangkul masyarakat, khususnya generasi muda.

Join Channel Aksaraindonesia.id untuk mendapatkan update berita terbaru setiap hari.
🛡️ STATUS VERIFIKASI
PT Aksara Indonesia Abyudaya
TERVERIFIKASI
Dokumen & Media ini telah terverifikasi resmi oleh
SMSI JAWA TIMUR

AksaraIndonesia.id

Iklan Jitu

Mobil Motor • Properti • Ragam • Lowongan • Kerjasama Advertorial

Harga Bersahabat, Berkualitas, dan Terpercaya

📱 Hubungi Sekarang

Follow Us

Join WhatsApp Channel

Join Channel
x
x
Dany Williams

Dany Williams

Typically replies within an hour

I will be back soon

Dany Williams
Berita Terkini, Ekslusif
di WhatsApp AKSARA Indonesia
Berita Terbaru, Eksklusif di Channel Aksara Indonesia