
Warih Andono Wakil Ketua DPRD Sidoarjo. Doc : Siska Prestiwati Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Wakil Ketua DPRD Sidoarjo Warih Andono meminta upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Sidoarjo diperkuat. Langkah itu dinilai penting menyusul Sidoarjo yang disebut masuk tiga besar daerah dengan kasus narkoba tertinggi di Jawa Timur.
Menurut Warih, pencegahan harus menjadi fokus utama melalui sosialisasi secara masif yang dibarengi pelaksanaan tes urine di lingkungan pemerintahan hingga sekolah.
Yang paling penting adalah pencegahannya. Caranya melalui sosialisasi dan tes urine. Tahun lalu, pemerintah daerah telah melakukan tes urine kepada ASN, PPPK, hingga para guru,” kata Warih kepada wartawan usai menghadiri peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 di Kantor BNN Kabupaten Sidoarjo, Kamis (23/7/2026).
Politikus Partai Golkar itu mengatakan program tes urine perlu diperluas dengan menyasar kalangan pelajar. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari deteksi dini untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
Kalau ada sosialisasi yang diperkuat dengan tes urine, maka peluang penyalahgunaan narkoba bisa ditekan. Siapapun yang terindikasi menggunakan narkoba, termasuk di lingkungan pemerintahan, dapat diketahui lebih awal,” ujarnya.
Warih mengaku belum menerima data rinci mengenai jumlah kasus narkoba yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut. Meski demikian, ia membenarkan informasi bahwa Sidoarjo berada di peringkat ketiga kasus narkoba tertinggi di Jawa Timur setelah Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik.
“Angka pastinya saya belum mengetahui karena belum disampaikan secara rinci. Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana pemerintah melakukan langkah antisipasi,” ucapnya.
Dalam peringatan HANI 2026 itu, lanjut Warih, juga disampaikan bahwa pelajar menjadi salah satu kelompok yang rentan terpapar penyalahgunaan narkoba. Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, BNN, dan instansi terkait untuk memperluas edukasi ke sekolah-sekolah.
“Kita akan menggerakkan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Selama ini kegiatan seperti tes urine juga didukung anggaran pemerintah daerah. Ke depan, kami berharap sekolah-sekolah juga dapat melaksanakannya secara mandiri sehingga upaya pencegahan bisa menjangkau lebih banyak pelajar,” pungkasnya.

