
Sumenep (Aksaraindonesia.id) – Pagi, Laut Masalembu tampak tenang. Sejumlah perahu beriringan membelah perairan biru di sekitar pulau kecil yang terletak di tengah pertemuan arus Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Di atas perahu-perahu itu, puluhan warga berkumpul. Laki-laki, perempuan, hingga anak-anak ikut larut dalam suasana khidmat sekaligus meriah. Mereka sedang menjalankan Rokat Tase’, tradisi petik laut yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep.
Bagi masyarakat luar, Rokat Tase’ mungkin hanya tampak sebagai ritual budaya dan keagamaan. Namun bagi warga Masalembu, tradisi ini jauh lebih dari itu. Ia adalah ungkapan syukur, doa, sekaligus cara masyarakat berbicara kepada laut yang selama ini memberi mereka kehidupan.
Di pulau yang sebagian besar penduduknya hidup sebagai nelayan, laut bukan sekadar hamparan air. Laut adalah dapur, sekolah, dan masa depan. Dari laut, mereka memperoleh penghasilan untuk membesarkan anak-anak, membayar kebutuhan rumah tangga, hingga menjaga roda ekonomi desa tetap berputar.
Namun, di balik perayaan yang penuh warna itu, tersimpan kegelisahan yang semakin besar.
“Rokat bukan hanya ritual kebudayaan dan keagamaan. Ini juga ruang bagi kami untuk menyampaikan keresahan yang sedang dihadapi nelayan,” ujar Sahri, salah satu tokoh nelayan Masalembu, Selasa (23/7/2026)
Keresahan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, para nelayan merasakan perubahan yang begitu nyata. Laut yang dulu dikenal kaya ikan kini tak lagi seramah dulu. Hasil tangkapan terus menurun. Perjalanan melaut semakin jauh dan semakin berisiko.
Menurut Sahri, salah satu penyebabnya adalah maraknya kapal-kapal dari luar daerah yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan di perairan Masalembu. Meski beberapa kali dilakukan penindakan, praktik serupa masih terus ditemukan.
“Laut kami semakin tertekan. Ikan makin sulit didapat. Padahal hidup kami bergantung sepenuhnya pada laut,” katanya.
Perubahan iklim turut memperberat keadaan. Musim ikan yang dahulu dapat diprediksi kini semakin sulit ditebak. Arah angin berubah, cuaca ekstrem datang tanpa peringatan yang jelas. Bagi nelayan kecil yang setiap hari bertaruh dengan ombak, ketidakpastian itu berarti risiko yang semakin besar.
Di sisi lain, persoalan kebutuhan dasar juga belum sepenuhnya terjawab.
Rendy Ansah, Ketua Kelompok Nelayan Masalembu (KNM), mengaku para nelayan kerap kesulitan memperoleh solar bersubsidi. Padahal bahan bakar merupakan kebutuhan utama untuk melaut.
“Kami punya surat rekomendasi resmi, tetapi tetap kesulitan mendapatkan solar di APMS. Kalau harus membeli di luar, harganya jauh lebih mahal,” ujarnya.
Bagi nelayan yang membutuhkan 30 hingga 40 liter solar sekali melaut, pembatasan pembelian 10 hingga 20 liter menjadi beban yang tidak ringan. Pengeluaran bertambah, sementara hasil tangkapan belum tentu mencukupi.
Dampak krisis ini tidak hanya dirasakan para nelayan laki-laki.
Di sebuah sudut pasar ikan Masalembu, Melli Wulandari memahami betul bagaimana perubahan kondisi laut memengaruhi kehidupan keluarganya. Sebagai istri nelayan sekaligus penjual ikan, ia merasakan langsung hubungan antara kesehatan laut dan keberlangsungan ekonomi rumah tangga.
“Kalau laut rusak, ikan berkurang. Kalau ikan berkurang, pendapatan kami juga turun. Padahal kebutuhan sehari-hari terus naik,” tuturnya.
Bagi Melli dan banyak perempuan lain di Masalembu, laut tidak hanya menentukan hasil tangkapan suami mereka. Laut juga menentukan apakah dapur bisa tetap mengepul, apakah kebutuhan sekolah anak dapat terpenuhi, dan apakah keluarga bisa bertahan menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.
Meski memiliki peran penting dalam pengolahan dan distribusi hasil perikanan, pekerjaan perempuan pesisir sering kali luput dari perhatian. Mereka bekerja sejak ikan mendarat di pantai hingga sampai ke tangan pembeli, namun kontribusi mereka jarang diakui secara formal.
Karena itulah, kerusakan laut bagi perempuan Masalembu bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia menyentuh langsung urusan makan, pendidikan, dan masa depan keluarga.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Rokat Tase’ menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia menjelma menjadi simbol keteguhan masyarakat pulau kecil yang berusaha mempertahankan hubungan mereka dengan laut, sekaligus bentuk perlawanan terhadap berbagai ancaman yang menggerus ruang hidup mereka.
Saat perahu-perahu kembali ke daratan dan doa-doa selesai dipanjatkan, harapan yang sama masih menggantung di langit Masalembu: agar laut tetap terjaga dan mampu menghidupi generasi yang akan datang.
“Kami berharap semua pihak ikut menjaga laut sebagai sumber kehidupan bersama,” kata Sahri.
Harapan itu sederhana, tetapi sangat berarti bagi masyarakat pulau kecil di tengah Laut Jawa. Sebab bagi mereka, menjaga laut bukan hanya soal melindungi alam. Menjaga laut berarti menjaga kehidupan itu sendiri.