Pameran Karya Seni di Galeri DKS Surabaya: Immiscibility dan Luka yang Tak Pernah Sembuh

Endang Pergiwati
23 Jun 2026 22:48
3 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Mungkin banyak orang tidak akan menyangka seberapa jauh trauma yang dialami seorang korban pelecehan atau kekerasan seksual. Mungkin banyak orang tidak akan mengira bahwa luka seorang korban kasus semacam itu akan dibawa sepanjang hidupnya. Inilah yang coba diangkat oleh Filda Miftahul Jannah, mahasiswi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta melalui karyanya bertajuk Immiscibility yang dipamerkan di Galeri DKS Balai Pemuda Surabaya, sejak Selasa (23/7/2026) hingga Kamis (25/7/2026).

Memasuki ruang galeri Surabaya, pengunjung langsung dihadapkan dengan tayangan video di sisi ujung ruangan. Tayangan yang dipancarkan dari proyektor jatuh ti atas kain yang dipasang di sepanjang dinding tersebut. Dalam tayangan itu, tampak seorang perempuan berada dalam kubangan lumpur. Hampir seluruh pakaiannya telah kotor oleh lumpur. Perempuan tersebut bergulat dengan lumpur seorang diri.

Saat pengunjung bergerak ke ruang yang lain, tampak beberapa lukisan abstrak berwarna hitam putih, diletakkan di dinding-dinding ruang kedua itu. Sementara tayangan video pun masih terus berlangsung. Suara musik yang mengambang di ruangan itu menggiring pengunjung menjelajahi memori kelam seorang korban.

“Memori tentang peristiwa pelecehan seksual yang dialami seorang korban itu tidak akan hilang. Bahkan tidak hanya dalam pikiran, memori itu akan tertanam dalam tubuh, dan tubuh akan merespons terhadap lingkungan sekitarnya karena memori itu,” ucap Filda yang biasa dipanggil Upil ini di ruang galeri, Rabu (24/6/2026).

Misalnya, Upil mencontohkan, seorang korban saat berkenalan dengan seseorang tiba-tiba menolak bersalaman. Respons seperti terjadi karena memori di dalam tubuh yang tiba-tiba muncul sebelum akhirnya tenggelam kembali.

Tak hanya tentang memori dalam tubuh korban, Filda juga menyoal victim blaming di tengah masyarakat. Para korban yang kerap “dihakimi” oleh masyarakat, dengan cara menuding bahwa peristiwa pelecehan seksual itu terjadi karena kesalahan korban sendiri hingga “memaksa” korban menerima hal itu sebagai peristiwa biasa saja.

“Korban seringkali malah disalahkan saat ada kejadian pelecehan seksual yang menimpanya. Korban kebanyakan berusaha menerima itu, sehingga dari luar korban terlihat baik-baik, dan orang tidak tahu bahwa mental dan psikologis korban ini sudah sakit banget,” tuturnya penuh rasa prihatin yang mendalam.

Dalam diri korban ini, tambah Upil, ada bagian-bagian dari dirinya yang tidak akan bisa kembali menjadi satu. Bahkan banyak korban kasus ini yang memandang dirinya pun bukan dirinya lagi, melainkan orang lain yang berbeda. Kondisi dua zat yang tidak bisa menjadi satu inilah yang disebut dengan Immiscibility.

Berangkat dari pengalaman pribadinya sendiri, mahasiswi Jurusan Seni Rupa Murni ini mengaku cukup akrab dengan korban pelecehan seksual, sehingga dirinya bisa merasakan dan memahami apa yang dialami para korban.

Melalui karya seni yang diangkat dari kasus pelecehan seksual yang terjadi, Filda ingin kembali mengingatkan publik bahwa dampak psikologis yang dialami para korban bukanlah hal yang ringan. Sebaliknya, kejadian semacam ini akan meninggalkan trauma mendalam yang tak akan pernah sembuh. Namun kepada para korban, Filda menitipkan pesan agar jangan berhenti untuk bangkit kembali.

“Meski jatuh, hancur, dengan luka yang tak pernah sembuh, tetaplah untuk bangkit kembali,” ucapnya dengan senyum yang juga masih menyimpan luka.

5-5-2026

Arsip Berita :