Pertunjukan Jual Bual di Panggung Arena Taman Budaya Jawa Tengah. Doc : Endang PergiwatiSurakarta (Aksaraindonesia.id) – Dalam Ujian Pergelaran Karya Seni Promosi Doktoral di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Kurniasih Zaitun, menyajikan pertunjukan teater berjudul Jual Bual dengan riset performatif terhadap praktik pedagang obat kaki lima di pasar-pasar tradisional Sumatera Barat, Senin (9/2/2026) malam di Panggung Arena Taman Budaya Jawa Tengah.
Kurniasih Zaitun mengungkapkan, pertunjukan Jual Bual ini menyajikan perilaku orang di masa kini, yang memiliki pola yang sama dengan pedagang obat kaki lima di pasar.

Kurniasih Zaitun menggelar karya teater Jual Bual dalam Pergelaran Program Doktor ISI Surakarta. Doc : Endang Pergiwati
Para aktor dalam pertunjukan tersebut, ditampilkan penuh dengan ucapan membual yang sangat persuasif tentang produk dagangannya, baik itu produk ekonomi maupun produk politik. Perilaku ini disebutnya membius kesadaran masyarakat, sehingga orang sulit membedakan mana fakta dan mana hoax. Namun di sisi lain, budaya tradisi termasuk pola pedagang obat di pasar, yang juga telah mengakar di kebiasaaan masyarakat justru bergelut dengan habit atau kebiasaan masa kini yang penuh jual bual.
Pertunjukan ini dihadirkan dalam 3 bagian. Pada bagian pertama, sang sutradara wanita, Kurniasih, bersama Promotor Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. dan Co Promotor Dr. Yusril, S.S., M.Sn., memberikan pengantar tentang arti Jual Bual dan Dramaturgi Kurenah.
Bagian kedua adalah pertunjukan di lobi Panggung Arena. Di area ini, ditampilkan 3 orang yang tengah menjual produknya melalui media social dengan cara siaran langsung atau live.
Bagian ketiga, pertunjukan di Panggung Arena, penonton disajikan adegan seorang host atau pembawa acara memandu seorang narasumber, seorang tetua adat Minangkabau, yang disebut Mamak. Ia mengungkapkan berbagai hal tentang budaya Minang, mulai dari soal tanah dan batasan wilayahnya, soal perempuan, hingga soal anak. Semuanya dalam perspektif budaya Minang. Cara pengungkapannya pun diselingi dengan tembang asal Minang.
Namun tidak hanya bicara tentang budaya Minang, alur dialog juga bergerak kembali pada akun media sosial yang dalam hitungan detik mampu menampilkan segala macam produk dagangan, digiring oleh ucapan dan tampilan video yang sangat persuasif, merayu masyarakat untuk “membeli” dagangannya.
Jual Bual menyajikan struktur dramaturgi yang mengalami pergeseran menuju postdramatik, dengan menghadirkan dramaturgi kurenah sebagai simpulan penciptaan.
“Kurenah adalah perilaku, gaya, ulah dan strategi persuasif pedagang obat yang menubuh atau menyatu dalam kehidupan keseharian, diwariskan dan membentuk identitas sosial,” terang pendiri Komunitas Hitam Putih di Minangkabau ini.
Tidak hanya menampilkan pertunjukan yang menarik, karya ini menegaskan paradigma riset berbasis praktik, dimana pengetahuan diproduksi melalui eksplorasi tubuh, pengalaman langsung, dan proses penciptaan di ruang pertunjukan.
Pemahaman Berlapis akan Masyarakat yang Diliputi Hoax
Dalam ujian program doktor ini, wanita yang meraih penghargaan Sutradara Terbaik pada Festival Intenasional Teater, Universitas of Casablanca, Moroko, tahun 2024, menghadapi 7 orang penguji, yaitu Dr. Bondet Wirahatnala, S.Sos., M.Sn., Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., Prof. Dr. Hj. Sri Rohana W., S.Kar., M.Si., Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si., Prof. Dr. Wahyu Novianto, S.Sn., M.Sn., Prof. Sardono W. Kusumo, dan Prof. Dr. Stepanus Hanggar Budi P., S.Sn., M.Si.

Sardono W. Kusumo, salah satu dosen penguji. Doc : Endang Pergiwati
Para penguji memberikan apresiasi yang sangat baik atas pertunjukan yang ditampilkan dosen ISI Padang Panjang ini. Sementara salah satu penguji, Sardono W. Kusumo menyampaikan pertunjukan tersebut membuatnya teringat akan sebuah film yang dibuat tahun 1950an pada masa pembentukan republik ini.
“Film ini menceritakan sekelompok orang yang datang ke sebuah desa. Kemudian ada orang yang berbicara banyak, menjual kata-kata. Masa itu adalah masa kita sedang membangun negara. Jadi masa orang-orang ngomong besar, ngomong hoax, itu ada di berbagai situasi. Cara untuk memahami hal-hal yang hoax ini, fake news, ini dipilih oleh sutradara pertunjukan ini dengan tema yang laten di Minang, tentang si penjual obat di pasar. Itu menariknya,” tegas Maestro Tari ini.
“Kurniasih mengupas situasi sekarang dengan metafor yang simple dan itu ada pada tradisi orang yang menjual. Semua pun bisa dijual dengan cara yang membolak balikkan sehingga orang sampai tidak tahu, mana fakta, mana hoax,” tambahnya.
Mas Don, panggilan akrab Sardono, juga menilai, Kurniasih bisa melihat masalah ini dalam lapisan-lapisan yang rapi.
“Bukan hanya soal politik, ini juga soal ekonomi, soal orang mencari rejeki, lalu ada orang yang tidak kebagian, ada perlawanan juga. Ini laten dalam komunikasi masyarakat,” ujar Mas Don.