Iran Bergejolak, 2.000 Orang Dilaporkan Tewas

Efif Yuliati
13 Jan 2026 20:24
2 minutes reading

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Kerusuhan yang kembali mengguncang Iran dalam beberapa hari terakhir dilaporkan memakan korban sangat besar. Seorang pejabat Iran yang tak disebutkan namanya mengklaim sekitar 2.000 orang tewas dalam rangkaian demonstrasi nasional tersebut.

Dilansir Al Arabiya dan Reuters, Selasa (13/01/2026), pejabat itu menuding “kelompok teroris” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban, baik dari warga sipil maupun aparat keamanan.

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras meningkatnya penggunaan kekerasan oleh aparat Iran. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menyatakan dirinya “terkejut” melihat eskalasi yang terjadi.

“Siklus kekerasan mengerikan ini tidak dapat berlanjut. Rakyat Iran dan tuntutan mereka untuk keadilan, kesetaraan, dan kebenaran harus didengar,” ujar Türk dalam pernyataan yang dibacakan juru bicara kantor HAM PBB, Jeremy Laurence.

Gelombang protes di Iran meletup sejak 28 Desember lalu, berawal dari kawasan Grand Bazaar Teheran. Mayoritas demonstran adalah pedagang dan pemilik toko yang memprotes anjloknya kondisi ekonomi, termasuk depresiasi tajam mata uang Rial. Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai kota dan berkembang menjadi gerakan yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa sejak 1979.

Beberapa hari terakhir, situasi makin memanas. Human Rights Activists News Agency (HRANA), kelompok HAM berbasis di AS, melaporkan sedikitnya 646 orang tewas akibat penindakan keras aparat terhadap demonstran. Angka itu terdiri dari 512 warga yang ikut aksi dan 134 anggota pasukan keamanan.

Lebih dari 1.000 orang luka-luka, sementara penangkapan massal mencapai 10.700 orang di 585 lokasi, mencakup 186 kota di seluruh 31 provinsi Iran.

HRANA dikenal memiliki data akurat dalam kerusuhan Iran sebelumnya. Laporan terbaru mereka dirilis pada Selasa (13/1) pagi, berdasarkan verifikasi dari jaringan pendukungnya di Iran.

13-03-2026

5-5-2026