Nyadran dan Wayang Kulit Jadi Puncak Ruwat Desa Banjar Kemuning

Siska Prestiwati
9 Feb 2026 07:32
2 minutes reading

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Warga Desa Banjar Kemuning menggelar Gebyar Puncak Tradisi Ruwat Desa sebagai wujud syukur kepada Allah SWT sekaligus upaya menjaga warisan budaya leluhur yang telah turun-temurun hidup di tengah masyarakat desa.

Kepala Desa Banjar Kemuning, H.M. Zainal Abidin, mengatakan ruwat desa tahun ini sengaja digelar secara sederhana. Hal itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas kepada saudara-saudara di berbagai daerah Indonesia yang tengah tertimpa musibah bencana alam.

“Ruwat desa ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus untuk memperkuat kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat, serta melestarikan budaya lokal yang menjadi identitas desa,” ujar Zainal Abidin.

Ia menambahkan, kesederhanaan pelaksanaan tidak mengurangi makna ruwat desa itu sendiri. Justru, nilai kebersamaan dan kepedulian sosial menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada seluruh warga.

Rangkaian kegiatan ruwat desa dimulai pada Jumat, 6 Februari 2026, dengan khataman Al-Qur’an yang digelar sejak pukul 05.30 WIB hingga selesai. Kegiatan ini diikuti oleh tokoh agama dan masyarakat sebagai bentuk doa bersama demi keselamatan desa.

Pada Jumat malam, rangkaian acara dilanjutkan dengan istighosah dan doa bersama. Suasana khidmat menyelimuti kegiatan tersebut, mencerminkan kentalnya tradisi religius yang menyatu dengan kehidupan sosial warga Banjar Kemuning.

Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026, dengan tradisi nyadran yang dilanjutkan pagelaran wayang kulit mulai pukul 07.00 WIB. Kegiatan ini menjadi simbol harmonisasi antara nilai spiritual, budaya Jawa, dan kehidupan masyarakat desa yang masih terjaga hingga kini.

5-5-2026

Arsip Berita :