Salah satu peserta festival menyajikan hasil karya di hadapan para juri. Dok : EndangSurabaya (Aksaraindonesia.id)- Digelar di Avatar Drink and Chill, di Jalan Ir Soekarno Surabaya, Heroes Ink Fest 2026 kembali menjadi magnet bagi para seniman dan pecinta tattoo dari seluruh nusantara, pada Sabtu-Minggu (27-28/6/2026).
Puluhan peserta ini datang memenuhi cafe yang terbagi di 2 ruang, outdoor dan indoor. Mereka datang tidak hanya untuk mengikuti lomba, namun juga untuk memperluas wacana kreatif tattoo dan berbagi ilmu dan pengalaman di antara para seniman tattoo.
Di tengah puluhan peserta yang rata-rata mengenakan pakaian hitam, tampak seseorang mengenakan pakaian APD berwarna putih, kacamata hitam dengan gagang berwarna hijau. Di bagian depan APD yang dikenakan, tampak wajah seseorang penuh warna, namun digambar dengan posisi terbalik. Ia duduk di antara para peserta dan pengunjung lain.
“Saya tidak ingin mengkritik, tidak ingin berpesan apapun, saya adalah penerima tamu di event ini,” tutur Wedar Sasmita atau yang akrab dipanggil Gombres, pria dalam pakaian APD itu.

Di tengah ruang outdoor, ada pula seseorang melukis pada sebuah kanvas. Sementara beberapa topeng yang lebih menyerupai alat pengekang wajah digantungkan di sela-sela pagar ruangan. Belum lagi wajah-wajah yang digambarkan pada kotak karton dan disematkan pada batang pohon yang tidak begitu besar di tengah ruangan, dan sejumlah gambar pun digantung di beberapa bagian dinding.
Ruang outdoor festival tattoo tidak lagi hanya menjadi ruang workshop para seniman menorehkan kreativitas di atas kulit seseorang, namun makin kental dengan nuansa art dengan beragam ide dan gagasan.
Ketua Asosiasi tattoo Surabaya (ATOS), Ayik, mengatakan, Heroes Ink Fest ini memang kegiatan tahunan. Untuk tahun ini, ada 2 kategori lomba, yaitu kategori color dan kategori black and grey.
“Untuk kategori color ada 26 peserta, dan kategori black and grey ada 35 peserta. Pesertanya pun lebih banyak, bahkan ada yang dari luar pulau, seperti NTT, Ambon dan Bali,” ucap Ayik.
Namun, tambah Ayik, festival kali ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari jumlah peserta, selain lebih banyak, juga lebih bagus dari tahun sebelumnya. Bisa dipastikan, persaingan tentu akan makin ketat.
“Lebih bagus dari segi prosesnya, SOP maupun hasil karyanya. Intinya, tambah keren!” ujar Ayik.
Hal ini terbukti dari hasil karya tattoo yang digarap para peserta. Tampak unik, rumit, dan terutama sangat artistik.
Seperti biasa, pihaknya menggandeng komunitas lain untuk memeriahkan acara, seperti Museum of Mind (MOM), Mural, Body Painting, dan komunitas-komunitas tato di berbagai kota lain.