Jelang Hari Santri, Ribuan Santri Padati DPRD Jatim, Suarakan Kecintaan pada Kiai

Siska Prestiwati
21 Oct 2025 18:58
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Lantunan sholawat menggema di Jalan Indrapura, Surabaya, Selasa (21/10/2025) sore. Ribuan santri dari berbagai pesantren datang dengan langkah tertib dan wajah teduh, membawa satu suara: membela kehormatan ulama. Mereka menuntut agar Trans7 meminta maaf dan mencabut tayangan Xpose Uncensored yang dinilai melecehkan Romo KH Anwar Manshur dari Ponpes Lirboyo, Kediri.

Aksi yang digelar oleh Aliansi Santri Nderek Kiyai (Asri) ini diikuti oleh berbagai elemen santri dan masyarakat pesantren. Dari Ansor, Banser, hingga alumni Lirboyo, Tebuireng, dan Ploso, semuanya bersatu menunjukkan solidaritas. Di tangan mereka, terbentang poster bertuliskan seruan moral seperti “Boikot Trans7”, “Cabut Izin Trans7”, hingga “Trans7 Media Tak Bermutu, Santri Bersatu”.

Sekitar pukul 14.44 WIB, massa mulai memenuhi area depan gedung DPRD Jatim. Mereka berdiri rapi di sepanjang jalan, melantunkan sholawat Asyghil dan Yalal Wathon dengan khidmat. Di sela lantunan dzikir, orasi dilakukan bergantian oleh para tokoh pesantren yang hadir.

Meski jumlah massa mencapai ribuan, suasana aksi berlangsung damai dan tertib. Sejumlah tokoh penting tampak hadir, mulai dari bupati, wali kota, hingga para kiai, bu nyai, gus, dan ning dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur.

Ketua DPRD Jawa Timur Musyafak Rouf turun langsung menemui para santri di ruangannya. Ia menyatakan, DPRD akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan Asri.

“Kami akan koordinasikan dengan komisi yang membidangi komunikasi dan digital. Ini aspirasi besar dari umat, dan kami pastikan akan diteruskan,” ujar Musyafak kepada wartawan usai menerima perwakilan santri.

Musyafak juga menegaskan, gelombang protes santri di Jawa Timur menjadi sinyal penting bagi dunia penyiaran agar lebih berhati-hati dalam menayangkan konten yang sensitif terhadap nilai agama dan moral.

“Aksi besar ini jadi catatan penting. Media harus tetap menjaga etika dan tidak menyinggung kehormatan tokoh agama,” tambahnya.

Dalam pernyataan resminya, Aliansi Santri Nderek Kiyai (Asri) menyampaikan lima tuntutan utama, yakni:

1. Mengecam penayangan video Xpose Uncensored di Trans7.
2.Menuntut pemilik Trans Media meminta maaf secara langsung kepada KH Anwar Manshur dan menyiarkannya secara live di seluruh jaringan Trans Media.
3. Menuntut pemberhentian serta proses hukum bagi pihak yang terlibat dalam pembuatan video tersebut.
4. Mendesak pihak kepolisian segera memproses laporan hukum dari para santri.
5. Meminta DPRD Jatim mengawal regulasi penyiaran agar lebih mendidik, serta mendorong KPID menelaah dugaan pelanggaran Trans7 dengan tuntutan pencabutan izin siar.

Di akhir aksi, massa menutup kegiatan dengan doa bersama dan lantunan sholawat. Mereka berharap suara santri tak hanya terdengar di Indrapura, tetapi juga sampai ke ruang-ruang redaksi dan lembaga penyiaran nasional — agar kehormatan kiai dan pesantren tetap terjaga.

13-03-2026

5-5-2026