

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H. R. Muhammad Syafi’i mendesak adanya pemeriksaan menyeluruh terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa santri Pesantren Manbaul Hikam. Pernyataan ini disampaikannya saat menjenguk tujuh santri yang dirawat di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur.
Dalam peninjauan tersebut, Wamenag didampingi Kakanwil Kemenag Jatim Akhmad Sruji Bahtiar dan Dirpos Diniyah dan Ponpes Basnang Said. Selain memberikan santunan, Wamenag turut mendoakan kesembuhan para korban.
Evaluasi Ketat, Bukan Penghentian Program
Usai dari hospital, Wamenag bertolak ke Pesantren Manbaul Hikam dan disambut langsung Ketua Yayasan KH Abdul Wachid Harun. Syafi’i menekankan bahwa insiden ini harus menjadi bahan evaluasi mendalam, tanpa menghentikan jalannya program MBG secara keseluruhan.
”Dari kunjungan tadi, para santri sebenarnya sangat membutuhkan dan menunggu program MBG ini. Katering dari SPPG yang sama sudah berjalan beberapa bulan tanpa kendala, baru kali ini bermasalah. Karena itu, wajib ada investigasi mendalam,” tegas Syafi’i, Jumat (4/9/2026)
Laporan awal mengindikasikan keluhan muncul setelah mengonsumsi olahan telur dan sayur. Namun, Kemenag masih menunggu hasil penelusuran teknis dari pihak berwenang.
”Kita perlu pastikan akar masalahnya, apakah ada kesalahan pada prosedur memasak atau pola distribusi yang menabrak petunjuk teknis. Penelusuran ini fokus pada aspek keamanan dan standar higienis makanan, bukan mempertanyakan keberlanjutan MBG,” tambahnya.
Dorong Kemandirian Dapur Pesantren
Kemenag memastikan tetap berkomitmen memperluas jangkauan MBG ke berbagai pesantren dan madrasah, termasuk di daerah terpencil melalui koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Saat ini, sekitar 42 persen pesantren sasaran telah terjangkau program ini.
Guna menekan risiko serupa, pemerintah membuka peluang bagi pesantren dengan sekitar 1.000 santri untuk mengelola dapur MBG secara mandiri.
”Dapur yang sudah ada cukup ditingkatkan standarnya. Yang krusial adalah aspek higienitas—mulai dari proses pencucian, penyimpanan bahan, hingga tata kelola limbah. Jika syarat ini terpenuhi, pesantren bisa masak sendiri tanpa bergantung pada suplai luar,” jelas Wamenag.
Kronologi Kejadian
Sementara itu, Ketua Yayasan Manbaul Hikam KH Abdul Wachid Harun membeberkan kronologi insiden yang terjadi pada Selasa (1/9). Sebanyak 1.010 porsi MBG dari SPPG Kalitengah tiba sekitar pukul 10.00 WIB dan dibagikan pukul 12.00 WIB untuk dikonsumsi siswa MA dan MTs.
Paket makanan tersebut berisi:
Nasi putih
Telur orak-arik
Tumis buncis baby corn
Tempe bumbu Bali
Buah apel
Sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah santri mulai mengeluhkan gejala mual, pusing, muntah, diare, hingga sesak napas. Penanganan awal sempat dilakukan di bidan desa setempat, namun jumlah korban terus melonjak hingga puluhan anak menjelang Magrib.
Pengurus akhirnya mengerahkan ambulans untuk melarikan para korban ke sembilan rumah sakit berbeda. Gejala dilaporkan muncul bertahap hingga Rabu siang. Pihak Kemenag menyatakan akan terus mengawal penanganan medis dan hasil investigasi resmi kejadian ini.

