
Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo terus bertambah dan kini telah mencapai 7.129 kasus. Dalam empat bulan pertama tahun 2026 saja, tercatat 215 kasus baru ditemukan. Kondisi ini memicu kekhawatiran DPRD Sidoarjo yang meminta langkah pencegahan dan penanggulangan dilakukan lebih masif agar daerah tersebut tidak masuk dalam kondisi darurat HIV/AIDS.
Data tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat yang digelar Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo bersama Dinas Kesehatan Sidoarjo, Kamis (4/6/2026). Sebelumnya, hingga Desember 2025, jumlah kasus HIV/AIDS yang tercatat sebanyak 6.914 kasus.
Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Moch Dhamroni Chudlori, mengaku prihatin dengan tren kenaikan kasus yang terjadi hampir setiap tahun.
Menurutnya, Sidoarjo sebagai daerah penyangga Surabaya memiliki tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
“Harus ada langkah yang lebih konkret dan masif agar kasus HIV/AIDS tidak terus meningkat,” ujarnya.
Dhamroni menegaskan pihaknya tidak ingin Sidoarjo masuk dalam kondisi darurat HIV/AIDS. Karena itu, ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait menyusun rencana aksi yang komprehensif, mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga pelaksanaan skrining secara lebih luas.
Ia juga menyoroti sejumlah wilayah yang selama ini menjadi penyumbang kasus cukup tinggi, seperti Porong dan Krian. Menurutnya, deteksi dini di kawasan tersebut perlu terus diperkuat.
Selain itu, Komisi D mengapresiasi keterlibatan Paguyuban Remaja Peduli HIV/AIDS (Parpas) yang selama ini aktif memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya HIV/AIDS serta upaya pencegahannya.
“Kami mendorong adanya sinergi antara pemerintah daerah, lembaga masyarakat, dan kelompok peduli HIV/AIDS agar upaya pencegahan berjalan lebih efektif,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Hinu Trisulistijorini, mengakui pendataan kasus HIV/AIDS masih menghadapi berbagai kendala.
Menurutnya, jumlah kasus yang tercatat saat ini belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Banyak orang yang terinfeksi belum mengetahui status kesehatannya atau enggan melakukan pemeriksaan.
“Fenomena ini seperti gunung es. Kasus yang terdeteksi kemungkinan hanya sebagian dari jumlah sebenarnya,” ujarnya.
Hinu menjelaskan, peningkatan temuan kasus diperoleh melalui kegiatan kunjungan lapangan dan skrining yang dilakukan seluruh puskesmas bekerja sama dengan Delta Crisis Center Sidoarjo.
Dinas Kesehatan, lanjutnya, terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat serta melakukan pemeriksaan rutin terhadap kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular HIV.
Dalam upaya penanggulangan, Dinkes juga menggandeng berbagai pihak, mulai dari sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat hingga fasilitas kesehatan swasta.
“Peran edukasi kepada pelajar dan masyarakat sangat penting agar mereka memahami bahaya HIV/AIDS serta cara penularannya,” pungkasnya.