
Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Suasana hangat dan penuh makna menyelimuti pembukaan pameran lukisan dan arsip bertajuk “Imagine” yang digelar pada Sabtu (25/4/2026), di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, dalam rangka memperingati ulang tahun ke-22 Sanggar Daun. Pameran ini tidak sekadar menjadi ajang apresiasi karya seni, tetapi juga ruang refleksi tentang proses tumbuh, keberanian berekspresi, dan pentingnya karakter dalam berkarya.
Dikuratori oleh Arik S. Wartono dan ditulis oleh Henri Nurcahyo, pameran ini menghadirkan karya-karya dari berbagai rentang usia—mulai dari anak usia dini hingga dewasa. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan utama yang ditampilkan, menghadirkan ragam gaya, goresan, serta bentuk visual yang tidak seragam, namun justru memperlihatkan keunikan masing-masing individu.
Pameran secara resmi dibuka oleh Heti Palestina Yunani, yang dalam sambutannya mengangkat filosofi sederhana namun mendalam tentang daun. Ia menggambarkan daun sebagai sesuatu yang tampak diam, tetapi sejatinya bekerja dan memberi arti bagi kehidupan. Filosofi ini, menurutnya, selaras dengan sosok Arik S. Wartono, yang mungkin terlihat tenang di permukaan, namun memiliki peran besar dalam membangun makna melalui Sanggar Daun.
Lebih jauh, Heti menyoroti pendekatan Sanggar Daun dalam mendidik para peserta didiknya. Ia menekankan bahwa keberanian anak-anak untuk tampil tidak dibentuk dengan cara menyeragamkan mereka sesuai kebutuhan atau ekspektasi orang lain. Sebaliknya, anak-anak justru didorong untuk menemukan dan menampilkan karakter masing-masing sejak dini.
“Di sini tidak ada yang seragam. Anak-anak diarahkan untuk muncul dengan identitas mereka sendiri. Ini penting, karena seringkali orang tua belum siap menerima perbedaan pada anaknya,” ungkap Heti.
Dalam konteks ini, lanjutnya, pameran Imagine ini menjadi ruang pembelajaran, tidak hanya bagi para peserta, tetapi juga bagi orang tua dan penikmat seni. Heti menegaskan bahwa kesempurnaan dalam karya tidak hadir secara instan, melainkan berawal dari proses yang mungkin tampak belum sempurna. Oleh karena itu, karya anak-anak yang ditampilkan tidak boleh dipandang sekadar sebagai karya anak-anak, melainkan sebagai penanda awal terbentuknya karakter artistik yang kelak akan terus berkembang.
“Penataan karya dalam pameran ini juga menjadi perhatian tersendiri. Susunan lukisan yang dinamis dan penuh pertimbangan tidak hanya memperkaya pengalaman visual pengunjung, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi anak-anak tentang komposisi dan keseimbangan. Mereka belajar bahwa setiap karya memiliki tempatnya masing-masing, tanpa perlu dibandingkan secara kompetitif,” tutur Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya.
Selain lukisan, aspek arsip karya turut menjadi bagian penting dalam pameran ini. Anak-anak diajak untuk memahami pentingnya mendokumentasikan perjalanan kreatif mereka. Dengan adanya arsip, mereka dapat menelusuri perkembangan diri dari waktu ke waktu, sekaligus belajar menghargai setiap proses yang telah dilalui.
Pada akhirnya, Imagine bukan sekadar pameran seni rupa, melainkan sebuah narasi tentang keberanian menjadi diri sendiri, tentang proses panjang menemukan karakter, dan tentang pentingnya ruang yang mendukung pertumbuhan tanpa tekanan keseragaman. Dalam usia ke-22, Sanggar Daun menunjukkan bahwa seni bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga tentang perjalanan, keberagaman, dan makna yang terus tumbuh—seperti daun yang diam, namun bekerja memberi kehidupan.